Saturday, 8 October 2016

Sedekah dan Doa



Dalam sedekah dan doa akan tercermin diri kita yang sebenarnya. Impian kita, cita-cita kita, kepedulian kita dan kebesaran jiwa kita.

Suatu sore di salah satu Masjid di Kuala Lumpur, ada peristiwa yang menggelitik jiwa saya.

"Ketika selesai menunaikan sholat ashar berjama'ah, seorang Pak Cik (panggilan untuk seorang lelaki diatas 50 an) memberikan sedekah 50 Ringgit (sekitar Rp. 175 ribu) kepada seorang miskin yang terduduk lemah di sebelah pintu keluar masjid. Ia terlihat gemetar dan setengah tak percaya. Ia tarik uang kertas 50 Ringgit tersebut ke arah lipatan kakinya seakan ingin tak ada orang lain yang melihatnya.

Sementara Pak Cik yang berbadan gemuk dan memang terbiasa ke Masjid itu terlihat tenang. Ia kembali memasukkan dompet ke sakunya kemudian berlalu. Saya sendiri cukup akrab dengan wajahnya, ia bahkan selalu hadir dalam kajian tafsir setiap pagi. Berkendaraan BMW, menandakan ia memang orang berkecukupan.

Selain sang miskin yang masih terkaget-kaget tadi, justeru saya ikut-ikutan kaget, setengah tak percaya. Jarang-jarang orang bersedekah sebesar itu kecuali jika ada munashoroh. Umumnya sedekah hanya satu atau dua ringgit saja. Paling besar 10 Ringgit"

Demikian kisahnya. Peristiwa kecil namun cukup membuat saya tergerak untuk menuliskannya.

Jadi sedekah itu mencerminkan siapa kita dan seberapa besar kepedulian kita. Ia hampir sama dengan hadiah yang kita berikan kepada orang lain. Jangan lihat siapa yang akan diberi hadiah, namun lihat "Layak-kah hadiah ini kita berikan?". Sekali lagi, Hadiah dan Sedekah itu cermin siapa kita.

Jika dalam kebanyakan doa kita hanya meminta:
kesehatan diri dan keluarga,
diampunkan dosa diri, orang tua dan keluarga,
di cukupkan rizki dan segala keperluan hidup
dan lain-lain semisalnya...

Maka itulah level dan kepedulian kita. Seolah-olah besarnya jiwa kita hanya sebesar diri, orang tua dan keluarga. Tidak salah. Namun alangkah baik jika dalam doa kita meminta yang lebih besar manfaatnya, lebih luas jangkauannya dan lebih tinggi tingkat kepeduliannya.

Misalnya..

Ketika kita minta kesehatan untuk diri dan keluarga, maka mintalah kepada Allah SWT kesehatan bagi keluarga saudara-saudara dengan menebutkan nama-nama mereka...

Ketika kita minta untuk menunaikan Haji, maka mintalah juga agar Allah SWT memberangkatkan haji fulan dan fulan dari saudara kita...

Ketika kita minta diberikan rizki yang cukup atau banyak bagi diri dan keluarga kita, mintakanlah rizki kepada Allah SWT bagi saudara-saudara kita, sebutkan namanya atau bahkan bagi mereka yang sedang dilanda kelaparan di negeri-negri nun jauh di sana...

Ketika kita minta keselamatan dari bahaya dan musibah, maka mintakanlah juga kepada Allah SWT agar diberikan kemenangan, keamanan dan keselamatan bagi saudara-saudara kita yang sedang dilanda konflik atau penjajahan..

Karena ketika kita berdoa untuk orang lain, maka Malaikat akan berkata "dan bagimu yang seumpamanya".

@am.yusuf

Mengapa Malas Ber-Al Qur'an?

Sumber Ilustrasi: Google

Oh mungkin karena sibuk..
Sibuk bekerja seharian
Sehingga tak ada waktu bersama Al Qur’an
Padahal sesibuk-sibuknya kita..
Masih sempat berhibur, bermain dan bersenda gurau

Oh mungkin karena karena tidak faham isi Al Qur’an
Seakan tak berarti membaca bacaan yang tidak dimengerti
Padahal kalau kita mau sedikit merenungi
Al Qur’an itu penuh dengan ilmu dan hidayah yang menyejukkan
Yang akan menyelamatkan, menuntun hingga ke syurga

Oh mungkin karena hati ini dan jiwa ini sedang sakit..
Hingga kalam suci serasa tak pantas untuk di dekati, dibaca dan di hayati..
Karena jiwa ini seakan tak layak bersama kalamnya yang Agung
Padahal kalau kita mau memulainya dengan istighfar
Memulainya dengan memandang kematian
Akan lunturlah noda dan kotor itu
Sehingga kerinduan kepada-Nya akan hadir..

Oh mungkin karena kita tidak memahami keagungan Al Qur’an
Sehingga kita memandangnya hanya ritual ketika susah atau musibah
Padahal Al Qur’an itu meninggikan, menghiasi, memberi kita kemuliaan
Bahkan ia akan mengangkatmu tinggi dalam derajat-derajat syurga nanti

Atau justru karena kita belum bisa membacanya, bahkan tak mengenalnya
Karena kita tak pernah menyentuhnya..
Karena selama ini kita masa bodoh dengannya..
Padahal untuk memulainya tidaklah susah..
Bahkan 2 pahala dijanjikan bagi mereka yang mau mempelajarinya..
Jangan malu dan jangan segan
Karena ilmu itu akan terhalang sifat malu yang salah tempat

Yang jelas...
Syetan itu betul adanya, sehingga ia menghalangimu dari Al Qur’an

Yang jelas..
Jalan ke syurga itu dipenuhi ujian, sehingga hanya mereka yang tangguh akan meraihnya

Yang  jelas...
Al Qur’an itu hanya untuk mereka yang terpilih, sehingga mengapa kta tidak mau menjadi hamba pilihan-Nya?

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba pilihan-Mu.

@Muhammad Yusuf

KL, 25 September 2016.

Untuk menambah wawasan Al Qur'an, silakan kunjungi juga di sini