عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( الدُّنْيَا
مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
)) (رواه مسلم)
Dari Abdullah bin 'Amr,
sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Dunia adalah perhiasan, dan
sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalihah" (HR. Muslim)
Setiap
kita berharap memiliki rumah tangga yang
Ideal. Sang suami berharap mendapat istri se-shalihah Khadijah ra. Begitu pun
sang istri berharap mendapatkan pasangan suami yang shalih dan penyayang, sebagaimana
tercermin dalam sosok Rasulullah saw. Sebuah harapan yang ideal bukan?.
Agar
harapan itu menjadi jelas, maka marilah kita melihat sosok agung seorang istri
pendamping Rasulullah saw, Khadijah ra. Ia adalah wanita terbaik di zamannya.
Semoga tulisan ini mampu memberikan sumbangan kepda setiap pasangan yang
mendambakan suasana Sakinah, Mawaddah dan Rahmah dalam bangunan rumah
tangganya.
Siapakah
sosok agung Khadijah ?
Khadijah
terlahir dari keluarga mulia dan terhormat. Ayahnya Khuwailid bin Naufal
kepala suku Bani Asad dan ibunya Fathimah al Qurasyiyyah, seorang
gadis tercantik di Makkah. Khadijah mewarisi kecantikan ibunya, mewarisi
kecerdasan dan kekuatan tekad dari Ayahnya serta mewarisi ilmu dan hikmah dari
pamannya Waraqah bin Naufal.
Sebelum
menikah dengan Rasulullah saw, Khadijah telah menikah dengan 2 saudagar
terhormat dikaumnya. Pertama adalah Abu Halah bin Zurarah at Tamimi.namun
kemudian wafat dan meninggalkan dua orang putri, Halah dan Hindun. Kemudian ia menikah
kembali dengan 'Atiq bin 'Aidz, seorang pemuda dari Bani Makhzum. Namun
tak lama ia pun dipanggil Allah tanpa meninggalkan keturunan. Khadijah menjadi
wanita terkaya dikalangan Quraisy. Berkat kecerdasannya, ia mampu mengelola
kekayaan itu dengan baik.(1) [1]
"Khadijah
adalah wanita Quraisy yang paling baik nasabnya dan paling mulia akhlaqnya,
paling banyak hartanya, banyak dari kaumnya yang ingin meminangnya seandainya
mereka mampu" (2)[2]
Peran Khadijah di samping Rasulullah
Untuk
melihat lebih dekat dengan sosok Khadijah ra, mari kita mendengar komentar dari
sang suami agung, Rasulullah saw. Bagaimana ia begitu mencintai dan menghargai
jasa-jasa nya, terutama ats pengorbananya dalam dakwah. Ia adalah salah satu
faktor kesuksesan Risalah Islam.
1.
Khadijah menjadi penyejuk suami dan pemberi solusi.
...قَالَتْ
لَهُ خَدِيجَةُ: كَلَّا
أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَاللَّهِ إِنَّكَ
لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ
وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ...
(رواه مسلم)
Khadijah berkata : "Janganlah engkau merasa takut dan
bergembiralah. Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan menghinakanmu.
Sesungguhnya engkau selalu menyambung shilaturahim, berkata jujur, membantu
yang lemah, dermawan, memuliakan tamu dan mengutamakan orang lain..."
(HR. Muslim)
Petikan riwayat ini terjadi ketika awal turun wahyu.
Sekembalinya Rasulullah saw dari Gua Hira dan bertemu Jibril, ia merasa sangat khawatir
dan ketakutan. Ia sama sekali tidak menduga bahwa dirinya akan menjadi manusia
pilihan pengemban Risalah langit.
Di tengah ketakutan dan kekhwatiran sang suami, Khadijah
hadir dengan seribu kemuliaan seorang istri. Ia menenangkan sang suami. Akal
sehat dan fitrahnya mengatakan bahwa seseorang yang memiliki karakter "selalu menyambung shilaturahim, berkata
jujur, membantu yang lemah, dermawan, memuliakan tamu dan mengutamakn orang
lain" tidak mungkin ditimpa kehinaan. Justeru sebaliknya.
Selanjutnya, Khadijah dengan segera mengajak sang suami
menemui Waraqah bin Naufal. Ia adalah pamannya yang beragama Nasrani pada masa
Jahiliyah dan sangat paham akan agamanya. Ia telah tua dan buta serta menulis Injil
dalam bahasa Ibrani. Dikemudian hari Waraqah menjadi orang kedua yang beriman
kepada kenabian Rasulullah saw. Disini kita melihat sebuah sulusi sangat tepat
yang dilakukan Khadijah, hingga kemudian Rasulullah mendapat ketenangan serta
kejelasan tentang peristiwa yang tengah di alaminya.
2.
Khadijah, wanita terbaik.
عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه
وسلم قال خير نسائها مريم
وخير نسائها خديجة (رواه البخاري ومسلم)
Dari Ali bin Abi Thalib ra, dari Rasulullah saw bersabda : "Wanita
terbaik adalah Maryam dan wanita terbaik adalah Khadijah" (HR. Bukhari-Muslim).
Sesungguhnya besarnya pahala tergantung kualitas amal. Semakin
berat tantangan yang dihadapi dan semakin besar pengorbanan, maka pahala akan
semakin besar. Mendampingi sang
pengemban Risalah bukanlah sebuah tanggung jawab yang ringan. Apalagi Khadijah
menghabiskan hidupnya bersama Rasulullah dalam periode Makkah. Periode dimana
dakwah masih dalam proses Ta'sis (membangun pondasi). Kondisi yang sangat berat ditengah konspirasi dan
intimidasi kaum Quraisy. Hanya mereka yang teguh dan berjiwa besar yang mampu
menempuhnya. Khadijah telah mencurahkan seluruh potensinya: harta, jiwa dan
semua kesabarannya dalam mengantarkan dakwah ini. Pantaslah jika ia menjadi
wanita terbaik (3)[3].
Petikan riwayat berikutnya menunjukkan tingginya penghargaan Allah
swt kepada Khadijah. Ia berkirim salam –
melalui Jibril – kepadanya :
عن
أبي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ
إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ
مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ
قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : suatu saat Jibril
datang kepada Nabi saw lalu berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang
kepadamu membawa hidangan, jika ia telah datang sampaikanlah salam dari Rabbnya
(Allah swt) dan dariku. Serta berikan kabar
gembira berupa Istana di surga yang terbuat dari mutiara, penuh ketenangan dan tiada
rasa lelah di dalamnya. (HR. Muslim).
Sesungguhnya
Allah Maha melihat dan Maha mendengar. Maha mengetahui segala apa yang terjadi
di Alam semesta. Adalah khadijah wanita terbaik, pendamping hidup utusannya dalam
menyampaikann Risalah. Orang yang paling banyak berkorban di awal dakwah Islam.
"sesungguhnya
Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik". Allah sangat
dekat dengan hambanya. Rahmat dan keridhaanya selalu menyertai para kekasihnya.Inilah
dia Khadijah. Mendapatkan usapan Salam dari Rabbnya. Dari Dzat yang Maha suci
pemilik alam semesta. Alangkah mulianya ucapan salam ini. Salam yang menandakan
keridhaan dan kedekatan. Ucapan Salam yang agung dari pemilik segala keagungan, untuk
seseorang yang agung diantara hambanya.
3. Khadijah di mata
Rasulullah saw.
عن عائشة
رضي الله عنها قالت ما غرت على أحد من نساء النبي صلى الله عليه وسلم ما غرت على خديجة وما رأيتها ولكن كان النبي
صلى الله عليه وسلم يكثر ذكرها وربما ذبح الشاة ثم يقطعها أعضاء ثم يبعثها في صدائق
خديجة فربما قلت له كأنه لم يكن في الدنيا امرأة إلا خديجة فيقول إنها كانت وكانت وكان
لي منها ولد (رواه البخاري)
Dari Aisyah ra berkata : saya tidak cemburu kepada
seorang pun dari isteri-isteri Nabi sebagaimana cemburuku kepada Khodijah,
padahal aku tidak pernah melihatnya. Namun nabi selalu
menyebutnya. Jika ia menyembelih kambing, maka ia memotong-motongnya kemudian
menghadiakannya kepada teman-teman Khodijah. Hingga aku berkata :
"seakan-akan di dunia ini tidak ada perempun kecuali Khodijah". Maka
Nabi menjawab : "Sesungguhnya Khodijah itu begini dan begitu (menyebutkan
keutamaannya) dan Aku mendapatkan keturunan darinya. (HR. Bukhari)
Tahun
wafatnya Khadijah ra dikenal dengan 'Amul Huzn (tahun kesedihan). Dalam tahun
itu Rasulullah merasa sangat kehilangan 2 sosok pembela paling dekat (pembela
dakwah dimuka bumi, setelah pertolongan Allah swt), yaitu Khadijah dan Abu
Thalib pamannya. Khadijahlah yang menjadi tempat tumpahan segala perasaan,
tempat berbagi dan berdiskusi. Ia telah mendapatkan pembelaan berupa: harta ,
kasih sayang, kelapangan dada dan kesabaran untuk selalu bersama-sama dalam
"penderitaan" dakwah.
Sementara Abu Thalib, ia adalah tokoh Quraisy yang
menjadi benteng setia bagi keselematan dan keamanan jiwa Rasulullah, meskipun
ia tetap dalam kekafiran sampai akhir hayatnya.
Rasulullah telah menemukan dalam diri Khadijah sebgaimana
yang diungkapkan oleh Al Aqqad : " Muhammad tidak menemukan Khadijah
sebagai seorang wanita polos yang selalu kebingungan dan tidak tahu apa yang
harus dilakukan. Ia menemukan sosok yang berhati mulia,
berjiwa agung, tempat ia mendapat kestabilan jiwa dan ketenangan hati".(4)[4]
Ia
– Rasulullah – adalah Al Amin. Pribadi yang setia. Setelah kepergian Khadijah
ra dan ia menikah dengan beberapa wanita lain (ummahatul mukminin, termasuk
Aisyah ra) , tidak lantas sosoknya hilang dari hati Rasulullah. Ia selalu
menyertai. " Demi Allah, Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik
darinya", itulah kesetiaan. Ia bersabda:
...قال : "لا والله ما أبدلنى الله خيراً منها، آمنت بى إذ كفر الناس، وصدقتنى إذ كذبنى الناس، وواستنى بمالها إذ
حرمنى الناس، ورزقنى الله منها أولاداً إذ حرمنى أولاد النساء" ...تعليق
الألباني على مختصر صحيح مسلم
Beliau
bersabda : "...Demi Allah, Allah tidak menggantinya dengan yang lebih
baik. Ia beriman kepadaku sementara manusia kafir, ia membenarkanku ketika
manusia mendustakanku dan Allah mengaruniaiku darinya keturunan yang Allah
tidak memberikanku keturunan dari wanita selainnya." (catatan Imam Al Bani
terhadap Shahih Muslim)
Sebagaimana
Khadijah mengagumi sosok suaminya, maka di hadits ini kita pun melihat
Rasulullah menunjukkan penghargaan tulus bagi istrinya. Ia menyebutkan Khadijah
sebagai pribadi pemilik banyak kemuliaan : " Ia beriman kepadaku sementara
manusia kafir, ia membenarkanku ketika manusia mendustakanku dan Allah
mengaruniakanku darinya keturunan yang Allah tidak memberikanku keturunan dari
wanita selainnya". Sebuah keharmonisan keluarga yang sangat ideal. Ada
saling memuji dan menghargai. Saling menjaga dan saling percaya. Saling
membantu dan saling mengingatkan. Tidak ada kecurigaan atau buruk sangka.
Begitulah seharusnya kita.
Menyelami mutiara
kemuliaan
Setelah kita melihat
beberapa potret kehidupan Rasulullah saw bersama Khadijah ra, mari kita
mengumpulkan dan merangkai kemuliaan tersebut untuk dijadikan teladan. Agar
kita bisa mengingatnya di kala datang kemarahan, kecemburuan dan ketidak
percayaan melanda. Agar kita mampu bermuhasabah akan diri kita, pasangan kita
dan interaksi kita selama ini.
1. Mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan
yang terbaik.
Sebelum
hidup bersama Rasulullah saw, Khadijah adalah sosok mulia dan terhormat di
kalangan kaumnya. Ini menjadi pelajaran bagi kita – yang belum menikah- untuk
mempersiapkan diri menjadi yang terbaik.
"...dan
wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) " (QS. An Nuur : 26).
Seorang calon suami diperintahkan untuk
memilih calon ibu terbaik bagi anak-anaknya.
Sebagaimana syair arab mengatakan :
Ibu
adalah Madrasah (tempat belajar)
Jika
engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.
2. Bersama suami dalam suka dan duka.
Seorang
istri yang baik akan menjadi pendamping yang baik. Jika suami seorang dai, yang
menyeru kepada Islam dan menyebarkan rahmat di tengah ummat, maka ia tampil
digaris depan barisan pembela. Ia berkorban dengan segala potensi yang dimiliki
: harta, pikiran, ilmu, profesi, pengaruh dan kepemimpinannya. Namun sebaliknya
jika suami lengah atau menyimpang, maka ia datang untuk menasihati dan
mengingatkan dengan cara yang terbaik. Isteri yang baik tidak menjadi beban
bagi suaminya.
Syaikh
Muhammad Munir Ghadban dalam kitabnya Fikih Sirah Nabawiyah menyimpulkan sebuah pelajaran dari dari potret kehidupan
Rasulullah saw bersama Khadijah, ia mengatakan : Sungguh ia adalah sebuah pelajaran bagi
seorang muslimah da'iyah, agar menjadikan dakwah kepada Allah dan Rasulnya
tujuan utama hidup dan eksistensinya di dunia dengan menjadikan Khodijah ra sebagai teladannya. Hendaklah
juga ia menjadikan hidupnya, hartanya dan jabatannya untuk dakwah fi sabilillah, meninggikan panji
Islam disamping seorang suami daiyah. Ia menolong bukan membebani, meringankan
segala kesulitan dan problematikanya. Tidak malahmelemahkan atau menjerumuskan
hingga iameninggalkan dakwah.
Ia
juga pelajaran bagi seorang da'iyah muslim. Hendaklah ia mengetahui kelebihan
dan tanggung jawab besar yang dipikul
isterinya, kesabarannya dalam menunaikan tugas ..." (5)[5]
3. Saling menghargai dan memuji .
Khadijah
memuji Rasulullah dangan ungkapan : " Sesungguhnya engkau selalu menyambung shilaturahim,
berkata jujur, membantu yang lemah, dermawan, memuliakan tamu dan mengutamakan
orang lain...". Kemudian Rasulullah membalas pujian itu :
"...Demi Allah, Allah tidak menggantinya dengan yang lebih baik. Ia
beriman kepadaku sementara manusia kafir, ia membenarkanku ketika manusia
mendustakanku dan Allah mengaruniaiku darinya keturunan yang Allah tidak
memberikanku keturunan dari wanita selainnya". Ucapan itu beliau sampaikan
lama setelah Khadijah wafat.
Itulah
sikap saling menghargai dan pengakuan terhadap kelebihan pasangan. Baik
pasangan kita itu ada di tempat atau sedang di luar. Terlebih lagi jika sikap
itu ditunjukkan ketika orang tersebut sudah meninggal, ia adalah sebaik-baik
penghormatan dan pembelaan.
Begitu
juga, hendaklah setiap pasangan menjadikan "urusan rumah"nya sebagai
rahasia. Ia tidak menjadikannya sebagai konsumsi umum atau mempublishnya
disembarang tempat. Ia hanya boleh membukanya dalam kondisi darurat.
4. Memiliki visi dan misi yang sama.
Visi
dan misi setiap muslim sudah jelas, yaitu beribadah kepada Allah swt. Siapa
yang masih bingung dengan tujuan hidupnya, hendaklah ia mengevaluasi kembali
tentang eksistensinya sebagai seorang muslim.
Kehidupan
keluarga akan menjadi sangat nyaman apabila keduanya memahami tujuan agung ini.
Semua aktivitas, keputusan dan berbagai pertimbangan dalam lingkup keluarga
terfokus pada Ridha Allah swt. Profesi masing-masing (suami dan istri) boleh
berbeda, namun tujuan harus tetap sama. Keduanya saling mendukung,
mengingatkan, menghargai dan melengkapi.
Rasulullah
saw adalah penghulu para dai, sementara Khadijah tampil sebagai pendukung utama
disetiap langkah dakwahnya. Begitulah setiap istri seorang muslim. Ia akan
sangat menentukan kesuksesan setiap langkah sang suami, baik ditempat ia
bekerja, dalam dakwah atau pun terkait ibadahnya kepada Allah.
Itulah beberapa
pelajaran dari kisah mulia Khadijah ra. Semoga kita yang masih dalam perjalanan
kehidupan ini bisa menjadikannya sebagai teladan. Tulisan ini tentu saja masih
sangat kurang untuk memenuhi hak Ummul Mukminin Khadijah ra dalam penghormatan
dan penuturan kemuliaannya. Semoga Allah merahmatinya bersama kita dengan Rahmat
yang seluas-luasnya. Wallahu A'lam.
No comments:
Post a Comment