Monday, 17 December 2012

Menjadi istri seperti Khadijah (Oleh: Muhammad Yusuf, Lc)




عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ )) (رواه مسلم)

Dari Abdullah bin 'Amr, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalihah" (HR. Muslim)

Setiap kita  berharap memiliki rumah tangga yang Ideal. Sang suami berharap mendapat istri se-shalihah Khadijah ra. Begitu pun sang istri berharap mendapatkan pasangan suami yang shalih dan penyayang, sebagaimana tercermin dalam sosok Rasulullah saw. Sebuah harapan yang ideal bukan?.
Agar harapan itu menjadi jelas, maka marilah kita melihat sosok agung seorang istri pendamping Rasulullah saw, Khadijah ra. Ia adalah wanita terbaik di zamannya. Semoga tulisan ini mampu memberikan sumbangan kepda setiap pasangan yang mendambakan suasana Sakinah, Mawaddah dan Rahmah dalam bangunan rumah tangganya.
Siapakah sosok agung Khadijah ?
Khadijah terlahir dari keluarga mulia dan terhormat. Ayahnya Khuwailid bin Naufal kepala suku Bani Asad dan ibunya Fathimah al Qurasyiyyah, seorang gadis tercantik di Makkah. Khadijah mewarisi kecantikan ibunya, mewarisi kecerdasan dan kekuatan tekad dari Ayahnya serta mewarisi ilmu dan hikmah dari pamannya Waraqah bin Naufal.
Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Khadijah telah menikah dengan 2 saudagar terhormat dikaumnya. Pertama adalah Abu Halah bin Zurarah at Tamimi.namun kemudian wafat dan meninggalkan dua orang putri, Halah dan Hindun. Kemudian ia menikah kembali dengan 'Atiq bin 'Aidz, seorang pemuda dari Bani Makhzum. Namun tak lama ia pun dipanggil Allah tanpa meninggalkan keturunan. Khadijah menjadi wanita terkaya dikalangan Quraisy. Berkat kecerdasannya, ia mampu mengelola kekayaan itu dengan baik.(1) [1]
"Khadijah adalah wanita Quraisy yang paling baik nasabnya dan paling mulia akhlaqnya, paling banyak hartanya, banyak dari kaumnya yang ingin meminangnya seandainya mereka mampu" (2)[2]

Peran Khadijah di samping Rasulullah
Untuk melihat lebih dekat dengan sosok Khadijah ra, mari kita mendengar komentar dari sang suami agung, Rasulullah saw. Bagaimana ia begitu mencintai dan menghargai jasa-jasa nya, terutama ats pengorbananya dalam dakwah. Ia adalah salah satu faktor kesuksesan Risalah Islam.
1.       Khadijah menjadi penyejuk suami dan pemberi solusi.
...قَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ: كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ... (رواه مسلم)
Khadijah berkata : "Janganlah engkau merasa takut dan bergembiralah. Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan menghinakanmu. Sesungguhnya engkau selalu menyambung shilaturahim, berkata jujur, membantu yang lemah, dermawan, memuliakan tamu dan mengutamakan orang lain..." (HR. Muslim)
Petikan riwayat ini terjadi ketika awal turun wahyu. Sekembalinya Rasulullah saw dari Gua Hira dan bertemu Jibril, ia merasa sangat khawatir dan ketakutan. Ia sama sekali tidak menduga bahwa dirinya akan menjadi manusia pilihan pengemban Risalah langit.
Di tengah ketakutan dan kekhwatiran sang suami, Khadijah hadir dengan seribu kemuliaan seorang istri. Ia menenangkan sang suami. Akal sehat dan fitrahnya mengatakan bahwa seseorang yang memiliki karakter  "selalu menyambung shilaturahim, berkata jujur, membantu yang lemah, dermawan, memuliakan tamu dan mengutamakn orang lain" tidak mungkin ditimpa kehinaan. Justeru sebaliknya.
Selanjutnya, Khadijah dengan segera mengajak sang suami menemui Waraqah bin Naufal. Ia adalah pamannya yang beragama Nasrani pada masa Jahiliyah dan sangat paham akan agamanya. Ia telah tua dan buta serta menulis Injil dalam bahasa Ibrani. Dikemudian hari Waraqah menjadi orang kedua yang beriman kepada kenabian Rasulullah saw. Disini kita melihat sebuah sulusi sangat tepat yang dilakukan Khadijah, hingga kemudian Rasulullah mendapat ketenangan serta kejelasan tentang peristiwa yang tengah di alaminya.

2.       Khadijah, wanita terbaik.

عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال خير نسائها مريم وخير نسائها خديجة (رواه البخاري ومسلم)

Dari Ali bin Abi Thalib ra, dari Rasulullah saw bersabda : "Wanita terbaik adalah Maryam dan wanita terbaik adalah Khadijah" (HR. Bukhari-Muslim).

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung kualitas amal. Semakin berat tantangan yang dihadapi dan semakin besar pengorbanan, maka pahala akan semakin besar.  Mendampingi sang pengemban Risalah bukanlah sebuah tanggung jawab yang ringan. Apalagi Khadijah menghabiskan hidupnya bersama Rasulullah dalam periode Makkah. Periode dimana dakwah masih dalam proses Ta'sis (membangun pondasi). Kondisi yang  sangat berat ditengah konspirasi dan intimidasi kaum Quraisy. Hanya mereka yang teguh dan berjiwa besar yang mampu menempuhnya. Khadijah telah mencurahkan seluruh potensinya: harta, jiwa dan semua kesabarannya dalam mengantarkan dakwah ini. Pantaslah jika ia menjadi wanita terbaik (3)[3].

Petikan riwayat berikutnya menunjukkan tingginya penghargaan Allah swt  kepada Khadijah. Ia berkirim salam – melalui Jibril – kepadanya :

عن أبي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : suatu saat Jibril datang kepada Nabi saw lalu berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepadamu membawa hidangan, jika ia telah datang sampaikanlah salam dari Rabbnya (Allah swt) dan dariku. Serta berikan kabar gembira berupa Istana di surga yang terbuat dari mutiara, penuh ketenangan dan tiada rasa lelah di dalamnya. (HR. Muslim).

Sesungguhnya Allah Maha melihat dan Maha mendengar. Maha mengetahui segala apa yang terjadi di Alam semesta. Adalah khadijah wanita terbaik, pendamping hidup utusannya dalam menyampaikann Risalah. Orang yang paling banyak berkorban di awal dakwah Islam.

"sesungguhnya Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik". Allah sangat dekat dengan hambanya. Rahmat dan keridhaanya selalu menyertai para kekasihnya.Inilah dia Khadijah. Mendapatkan usapan Salam dari Rabbnya. Dari Dzat yang Maha suci pemilik alam semesta. Alangkah mulianya ucapan salam ini. Salam yang menandakan keridhaan dan kedekatan. Ucapan Salam yang agung  dari pemilik segala keagungan, untuk seseorang yang agung diantara hambanya.  

3.      Khadijah di mata Rasulullah saw.
عن عائشة رضي الله عنها قالت ما غرت على أحد من نساء النبي صلى الله عليه وسلم ما غرت على خديجة وما رأيتها ولكن كان النبي صلى الله عليه وسلم يكثر ذكرها وربما ذبح الشاة ثم يقطعها أعضاء ثم يبعثها في صدائق خديجة فربما قلت له كأنه لم يكن في الدنيا امرأة إلا خديجة فيقول إنها كانت وكانت وكان لي منها ولد (رواه البخاري)

Dari Aisyah ra berkata : saya tidak cemburu kepada seorang pun dari isteri-isteri Nabi sebagaimana cemburuku kepada Khodijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Namun nabi selalu menyebutnya. Jika ia menyembelih kambing, maka ia memotong-motongnya kemudian menghadiakannya kepada teman-teman Khodijah. Hingga aku berkata : "seakan-akan di dunia ini tidak ada perempun kecuali Khodijah". Maka Nabi menjawab : "Sesungguhnya Khodijah itu begini dan begitu (menyebutkan keutamaannya) dan Aku mendapatkan keturunan darinya. (HR. Bukhari)

Tahun wafatnya Khadijah ra dikenal dengan 'Amul Huzn (tahun kesedihan). Dalam tahun itu Rasulullah merasa sangat kehilangan 2 sosok pembela paling dekat (pembela dakwah dimuka bumi, setelah pertolongan Allah swt), yaitu Khadijah dan Abu Thalib pamannya. Khadijahlah yang menjadi tempat tumpahan segala perasaan, tempat berbagi dan berdiskusi. Ia telah mendapatkan pembelaan berupa: harta , kasih sayang, kelapangan dada dan kesabaran untuk selalu bersama-sama dalam "penderitaan" dakwah.

Sementara Abu Thalib, ia adalah tokoh Quraisy yang menjadi benteng setia bagi keselematan dan keamanan jiwa Rasulullah, meskipun ia tetap dalam kekafiran sampai akhir hayatnya.

Rasulullah telah menemukan dalam diri Khadijah sebgaimana yang diungkapkan oleh Al Aqqad : " Muhammad tidak menemukan Khadijah sebagai seorang wanita polos yang selalu kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia menemukan sosok yang berhati mulia, berjiwa agung, tempat ia mendapat kestabilan jiwa dan ketenangan hati".(4)[4]

Ia – Rasulullah – adalah Al Amin. Pribadi yang setia. Setelah kepergian Khadijah ra dan ia menikah dengan beberapa wanita lain (ummahatul mukminin, termasuk Aisyah ra) , tidak lantas sosoknya hilang dari hati Rasulullah. Ia selalu menyertai. " Demi Allah, Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik darinya", itulah kesetiaan. Ia bersabda:


...قال : "لا والله ما أبدلنى الله خيراً منها، آمنت بى إذ كفر الناس، وصدقتنى إذ كذبنى الناس، وواستنى بمالها إذ حرمنى الناس، ورزقنى الله منها أولاداً إذ حرمنى أولاد النساء" ...تعليق الألباني على مختصر صحيح مسلم

Beliau bersabda : "...Demi Allah, Allah tidak menggantinya dengan yang lebih baik. Ia beriman kepadaku sementara manusia kafir, ia membenarkanku ketika manusia mendustakanku dan Allah mengaruniaiku darinya keturunan yang Allah tidak memberikanku keturunan dari wanita selainnya." (catatan Imam Al Bani terhadap Shahih Muslim)

Sebagaimana Khadijah mengagumi sosok suaminya, maka di hadits ini kita pun melihat Rasulullah menunjukkan penghargaan tulus bagi istrinya. Ia menyebutkan Khadijah sebagai pribadi pemilik banyak kemuliaan : " Ia beriman kepadaku sementara manusia kafir, ia membenarkanku ketika manusia mendustakanku dan Allah mengaruniakanku darinya keturunan yang Allah tidak memberikanku keturunan dari wanita selainnya". Sebuah keharmonisan keluarga yang sangat ideal. Ada saling memuji dan menghargai. Saling menjaga dan saling percaya. Saling membantu dan saling mengingatkan. Tidak ada kecurigaan atau buruk sangka. Begitulah seharusnya kita.

Menyelami mutiara kemuliaan


Setelah kita melihat beberapa potret kehidupan Rasulullah saw bersama Khadijah ra, mari kita mengumpulkan dan merangkai kemuliaan tersebut untuk dijadikan teladan. Agar kita bisa mengingatnya di kala datang kemarahan, kecemburuan dan ketidak percayaan melanda. Agar kita mampu bermuhasabah akan diri kita, pasangan kita dan interaksi kita selama ini.

1.      Mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan yang terbaik.
Sebelum hidup bersama Rasulullah saw, Khadijah adalah sosok mulia dan terhormat di kalangan kaumnya. Ini menjadi pelajaran bagi kita – yang belum menikah- untuk mempersiapkan diri menjadi yang terbaik.  "...dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) " (QS. An Nuur : 26).

Seorang calon suami diperintahkan untuk memilih calon ibu terbaik bagi anak-anaknya. Sebagaimana syair arab mengatakan :

Ibu adalah Madrasah (tempat belajar)
Jika engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

2.      Bersama suami dalam suka dan duka.
Seorang istri yang baik akan menjadi pendamping yang baik. Jika suami seorang dai, yang menyeru kepada Islam dan menyebarkan rahmat di tengah ummat, maka ia tampil digaris depan barisan pembela. Ia berkorban dengan segala potensi yang dimiliki : harta, pikiran, ilmu, profesi, pengaruh dan kepemimpinannya. Namun sebaliknya jika suami lengah atau menyimpang, maka ia datang untuk menasihati dan mengingatkan dengan cara yang terbaik. Isteri yang baik tidak menjadi beban bagi suaminya.

Syaikh Muhammad Munir Ghadban dalam kitabnya Fikih Sirah Nabawiyah menyimpulkan  sebuah pelajaran dari dari potret kehidupan Rasulullah saw bersama Khadijah, ia mengatakan  : Sungguh ia adalah sebuah pelajaran bagi seorang muslimah da'iyah, agar menjadikan dakwah kepada Allah dan Rasulnya tujuan utama hidup dan eksistensinya di dunia dengan menjadikan  Khodijah ra sebagai teladannya. Hendaklah juga ia menjadikan hidupnya, hartanya dan jabatannya  untuk dakwah fi sabilillah, meninggikan panji Islam disamping seorang suami daiyah. Ia menolong bukan membebani, meringankan segala kesulitan dan problematikanya. Tidak malahmelemahkan atau menjerumuskan hingga iameninggalkan dakwah.
Ia juga pelajaran bagi seorang da'iyah muslim. Hendaklah ia mengetahui kelebihan dan tanggung jawab besar yang  dipikul isterinya, kesabarannya dalam menunaikan tugas ..." (5)[5]

3.      Saling menghargai dan  memuji .
Khadijah memuji Rasulullah dangan ungkapan : " Sesungguhnya engkau selalu menyambung shilaturahim, berkata jujur, membantu yang lemah, dermawan, memuliakan tamu dan mengutamakan orang lain...". Kemudian Rasulullah membalas pujian itu : "...Demi Allah, Allah tidak menggantinya dengan yang lebih baik. Ia beriman kepadaku sementara manusia kafir, ia membenarkanku ketika manusia mendustakanku dan Allah mengaruniaiku darinya keturunan yang Allah tidak memberikanku keturunan dari wanita selainnya". Ucapan itu beliau sampaikan lama setelah Khadijah wafat.

Itulah sikap saling menghargai dan pengakuan terhadap kelebihan pasangan. Baik pasangan kita itu ada di tempat atau sedang di luar. Terlebih lagi jika sikap itu ditunjukkan ketika orang tersebut sudah meninggal, ia adalah sebaik-baik penghormatan dan pembelaan.

Begitu juga, hendaklah setiap pasangan menjadikan "urusan rumah"nya sebagai rahasia. Ia tidak menjadikannya sebagai konsumsi umum atau mempublishnya disembarang tempat. Ia hanya boleh membukanya dalam kondisi darurat.


4.      Memiliki visi dan misi yang sama.
Visi dan misi setiap muslim sudah jelas, yaitu beribadah kepada Allah swt. Siapa yang masih bingung dengan tujuan hidupnya, hendaklah ia mengevaluasi kembali tentang eksistensinya sebagai seorang muslim.

Kehidupan keluarga akan menjadi sangat nyaman apabila keduanya memahami tujuan agung ini. Semua aktivitas, keputusan dan berbagai pertimbangan dalam lingkup keluarga terfokus pada Ridha Allah swt. Profesi masing-masing (suami dan istri) boleh berbeda, namun tujuan harus tetap sama. Keduanya saling mendukung, mengingatkan, menghargai dan melengkapi.

Rasulullah saw adalah penghulu para dai, sementara Khadijah tampil sebagai pendukung utama disetiap langkah dakwahnya. Begitulah setiap istri seorang muslim. Ia akan sangat menentukan kesuksesan setiap langkah sang suami, baik ditempat ia bekerja, dalam dakwah atau pun terkait ibadahnya kepada Allah.

Itulah beberapa pelajaran dari kisah mulia Khadijah ra. Semoga kita yang masih dalam perjalanan kehidupan ini bisa menjadikannya sebagai teladan. Tulisan ini tentu saja masih sangat kurang untuk memenuhi hak Ummul Mukminin Khadijah ra dalam penghormatan dan penuturan kemuliaannya. Semoga Allah merahmatinya bersama kita dengan Rahmat yang seluas-luasnya. Wallahu A'lam.












[1] Lihat : Nisa haula rasul, Muhammad Ali Quthb dkk. Al Maktabah Al Ashriyah. Hal.36
[2] Fikih Sirah, Munir Muhammad Ghadban, Hal. 118
[3] Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud terbaik adalah terbaik di zamannya.
[4] Al Aqqad, Fatimah az Zahra. Hal 221.
[5] Fikih Sirah, Munir Muhammad Ghadban, Hal. 139.

No comments:

Post a Comment