(oleh : Ahmad Muhammad Yusuf, Lc)
Allah swt memuliakan ummat
ini dengan predikat Khoiru Ummah.
Ummat yang terbaik. Ummat yang menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar
(menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran). Hal ini ditegaskan
Allah dalam firmanNya:
كُنْتُمْ
خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ . (آل عمران 110)
"Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah".(QS.
Ali Imran :110)
Aktivitas amar makruf dan
Nahi munkar adalah hakikat dan inti amal dakwah. Ia bertujuan sebagaimana
yang diungkapkan Rib'i bin 'Amir (komandan pasukan kaum Muslimin) kepada
Rustum (komandan pasukan Persia):
"mengeluarkan manusia dari
penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan total kepada Allah, serta
mengajak manusia untuk keluar dari sempitnya dunia menuju keluasan hidup di dunia
dan akhirat". Jika eksistensi dakwah ini hilang, maka gelar khoiru
ummah tidak lagi menjadi predikat mereka.
Para da'i Ilallah
memiliki kedudukan mulia dan agung disisi Allah. Merekalah pewaris para Nabi,
penerus Risalah Islam, pelopor kebaikan dan penyelamat ummat dari azhab Allah
swt.
Urgensi berdakwah dan keutamaan seorang Da'i
Dakwah Ilallah adalah sebuah keniscayaan sekaligus kemuliaan. Hukumnya wajib.
Kewajiban yang jika tidak ada seorang pun menunaikannya, maka semua mendapat
dosa.
Sesungguhnya ketika seorang muslim
beramal sholeh, berdakwah dan menyeru manusia kepada Islam, maka dia beramal
sholeh dan bekerja untuk dirinya sendiri. Begitu juga sebaliknya, ketika ia
berbuat zhalim kepada orang lain, maka sesungguhnya ia telah berbuat zhalim
kepada dirinya sendiri.
Beberapa alasan yang menjadikan dakwah begitu
urgent dan mulia adalah:
1.
Kondisi
Ummat Islam
Kaum muslimin sedang ditimpa
ujian. Melemahnya akidah dan tumbuhnya kesyirikan, hukum manusia menggantikan
hukum Allah, merebaknya kebodohan, merajalelanya kemaksiatan dan fitnah seperti
: transaksi riba, zina, khamr dan perjudian, hilangnya pemerintahan
Islam sehingga kaum muslimin berjalan tanpa seorang pemimpin dan sebagainya.
Kondisi inilah yang menjadikan dakwah harus tetap tegak.
Ummat akan terancam jika
dakwah tidak tegak. Terancam oleh azhab yang tidak hanya menimpa para pelaku
maksiat, tapi juga orang-orang shalih yang enggan berdakwah. Inilah gambaran
yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah mitsal (perumpamaan)nya :
Sabda Nabi saw : "Perumpamaan
orang yang menegakkan syari'ah Allah dan orang yang terjerumus (kedalam
kemaksiatan), seperti kaum yang berlayar. Sebagian berada di bagian
atas dan sebagiannya di bawah. Adapun mereka yang dibawah jika menginginkan
air, mereka harus melewati kawannya yang di atas. Kemudian mereka berkata:
" Bagaimana jika kita lubangi kapal ini (untuk mendapatkan air) agar tidak
mengganggu kawan kita yang di atas?". Jika mereka di biarkan melubanginya,
maka semua akan binasa. Dan jika mereka di cegah, maka semua akan selamat.
(HR. Bukhari)
Selain kondisi ummat yang
telah digambarkan diatas, hal lain yang menjadikan dakwah sebagai sebuah
prioritas adalah : sedikitnya jumlah para da'i dam mushlihin (para
penyeru kebenaran) jika dibandingkan dengan jumlah ummat Islam, luasnya sebaran
kaum muslimin dan beragamnya bangsa serta karakter mereka.
2.
Kemuliaan
seorang Da'i
Banyak keutamaan bagi
seorang da'i. Jika seseorang mentadabburinya dengan penuh keimanan, niscaya ia
akan yakin dan teguh berada di atas jalannya. Diantara kemuliaan itu adalah :
a.
Meneladani
jejak Rasulullah saw
Berdakwah
berarti meneladani dan mengikuti jejak Rasulullah. Ia yang diutus untuk
memberikan kabar gembira dan peringatan (basyiran wa nadziran) serta
untuk menyempurnakan akhlak.
Allah
berfirman : "Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan
orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang
nyata.." (QS. Yusuf : 108)
b.
Meraih
kemenangan dengan dakwah
Dakwah adalah kewajiban
seluruh kaum muslimin. Meskipun demikian hendaklah ada segolongan yang bertafarrugh
(konsentrasi) dan beramal untuknya. Ini seperti yang diserukan oleh Allah
swt :
"Dan hendaklah ada di antara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan
mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali
Imran :104)
Iman
Abdurrahman Nashir as Sa'di menafsiri ayat ini dengan : "Ini adalah
petunjuk dari Allah kepada kaum mukminin, agar ada segolongan dari mereka yang
konsentrasi dalam dakwah dan membimbing manusia ke jalan Islam".
Di sini Allah juga
memberikan kesaksian, bahwa mereka yang berdakwah adalah kelompok muflihun
(orang-orang yang beruntung). Sungguh mulia kedudukan mereka yang mendapatkan
persaksian langsung dari Allah.
c.
Menjadi
sebaik-baik manusia
Para da'i adalah manusia
terbaik. Yaitu mereka yang shalih dan mushlih (memperbaiki diri
dan orang lain).
Allah
berfirman : "Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang
menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya
aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fushshilat :33)
Nabi saw
memberikan semangat dan dorongan kepada Ali ra untuk selalu berdakwah, beliau bersabda : "Demi Allah, seandainya Allah memberikan
hidayah kepada seseorang atas usahamu (mendakwahinya), niscaya lebih baik
bagimu dari pada unta merah". (HR. Bukhari –Muslim). Dan dalam riwayat
lain lebih baik dari dunia dan seisinya.
d.
Meraih
sebanyak-banyaknya pahala dengan berdakwah
Dunia adalah daarul amal
(tempat beramal) dan akhirat adalah daarul jazaa (tempat memperoleh
balasan). Dengan berdakwah, seseorang akan meraih pahala berlipat. Bahkan
pahala itu akan terus mengalir meskipun ia sudah tiada/meninggal.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ
الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ
لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا )) رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra,
sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : "Barangsiapa menyeru kepada
Hidayah Allah, maka ia mendapatkan pahala sebanyak pahala orang-orang yang
mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang
menyeru kepada kesesatan, maka ia akan berdosa sebanyak dosa orang-orang yang
mengikutinya tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikit pun. (HR. Muslim)
Nabi kita telah menjelaskan
beberapa amal yang pahalanya akan terus mengalir. Sehingga ia pantas mendapat
prioritas dan perhatian lebih dari seseorang yang berharap keridhaan Allah.
Dari Abu Hurairah ra,
sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : "jika seseorang telah meninggal
dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari 3 hal : sedekah, ilmu yang
bermanfaat dan anak sholeh yang berdoa untuknya" (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah ra,
bersabda Rasulullah saw : " Diantara amal dan kebaikan yang akan terus
mengalir kepada seseorang setelah dia meninggal adalah : ilmu yang dia ajarkan
dan sebarkan, anak sholeh, Mushaf yang ia wariskan, masjid yang ia bangun,
rumah singgah bagi Ibnu Sabil yang ia bangun, sungai yang ia alirkan dan
sedekah yang ia keluarkan ketika sehat
yang akan ia temui setelah mati" (HR. Ibnu Majah, Baihaqi dan Ibnu
Khuzaimah dalah Shahihnya)
Subhanallah, siapakah
diantara kita yang tidak ingin mendapatkan keuntungan yang terus mengalir,
terus masuk ke dalam catatan amal sholeh kita? Maka dakwahlah jawabannya, ia
adalah transaksi kita dengan Allah. Transaksi yang tidak akan merugi.
Kewajiban dakwah dalam Islam
Para ulama telah bersepakat
(Ijma') bahwa dakwah adalah wajib. Hal ini didasarkan atas wajibnya Amar
ma'ruf dan Nahi Munkar, yang ia merupakan inti dari amal dakwah. Hanya saja
mereka berbeda pendapat : apakah Ia wajib 'ain atau wajib kifayah.
Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat :
" Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.." (QS. Ali Imran : 104) dengan berkata : "Maksud ayat ini
hendaklah sekelompok dari ummat berkonsentrasi dalam dakwah, meskipun pada
asalnya dia adalah wajib bagi setiap muslim sesuai kemampuannya. Sebagaimana hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, berkata: Bersabda
Rasulullah saw : "Barang siapa diantara kalian melihat kemunkaran, maka
cegahnlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, cegahlah dengan lisannya. Jika
tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya (perbuatan munkar tersebut) dan ia adalah
selemah-lemahnya iman".
Imam An Nawawi berkata dalam
menjelaskan Hadits ini : "Hanya orang yang berilmu saja yang boleh
berdakwah, meskipun ilmu ini sifatnya relatif. Perkara-perkara wajib yang jelas
wajibnya dan perkara haram yang jelas haramnya, seperti : wajibnya shalat dan
puasa, atau haramnya zina dan minuman keras, maka semua kaum muslimin
mengetahuinya.
Alangkah idealnya jika
dakwah ini diemban oleh seseorang yang sholeh, 'alim, berwawasan luas, memiliki
muamalah yang baik dengan masyarakat dan sabar atas segala fitnah mereka. Namun
demikian, seorang muslim tidak boleh malas untuk berdakwah dengan alasan "saya
tidak pandai " atau "saya banyak dosa"atau alasan
lainnya.
Imam Nawawi menambahkan
penjelasan terhadap hadits di atas " dan seorang da'i tidak disyaratkan
harus menjadi sosok yang sempurna. Mengamalkan apa yang ia perintah dan
menjauhi apa yang ia larang. Ini dikarenakan ia mempunyai dua kewajiban :
kewajiban memperbaiki dirinya dan kewajiban berdakwah kepada orang lain. Jika
ia lemah dalam satu sisi, tidaklah pantas untuk malas disisi yang lain".
Ini berarti ketika berusaha memperbaiki orang lain, di saat yang sama kita
dituntut untuk terus memperbaiki diri. Keshalihan seseorang menjadi faktor
utama kesuksesan dakwah. "Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". (QS. Al Baqarah :
286)
Semoga Allah swt
menggabungkan kita dalam barisan orang-orang sholeh dan mushlih,
serta sabar dengan segala ujiannya. Wallahu 'A'lam.
No comments:
Post a Comment