Friday, 14 December 2012

Da'i, Profesi Pewaris Para Nabi



(oleh : Ahmad Muhammad Yusuf, Lc)

Allah swt memuliakan ummat ini dengan predikat  Khoiru Ummah. Ummat yang terbaik. Ummat yang menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran). Hal ini ditegaskan Allah dalam firmanNya:


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ . (آل عمران 110)
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah".(QS. Ali Imran :110)

Aktivitas amar makruf dan Nahi munkar adalah hakikat dan inti amal dakwah. Ia bertujuan sebagaimana yang diungkapkan Rib'i bin 'Amir (komandan pasukan kaum Muslimin) kepada Rustum (komandan pasukan  Persia):  "mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan total kepada Allah, serta mengajak manusia untuk keluar dari sempitnya dunia menuju keluasan hidup di dunia dan akhirat". Jika eksistensi dakwah ini hilang, maka gelar khoiru ummah tidak lagi menjadi predikat mereka.
Para da'i Ilallah memiliki kedudukan mulia dan agung disisi Allah. Merekalah pewaris para Nabi, penerus Risalah Islam, pelopor kebaikan dan penyelamat ummat dari azhab Allah swt.

Urgensi berdakwah dan keutamaan seorang Da'i

Dakwah Ilallah adalah sebuah keniscayaan sekaligus kemuliaan. Hukumnya wajib. Kewajiban yang jika tidak ada seorang pun menunaikannya, maka semua mendapat dosa.
Sesungguhnya ketika seorang muslim beramal sholeh, berdakwah dan menyeru manusia kepada Islam, maka dia beramal sholeh dan bekerja untuk dirinya sendiri. Begitu juga sebaliknya, ketika ia berbuat zhalim kepada orang lain, maka sesungguhnya ia telah berbuat zhalim kepada dirinya sendiri.

 Beberapa alasan yang menjadikan dakwah begitu urgent dan mulia adalah:
1.       Kondisi Ummat Islam
Kaum muslimin sedang ditimpa ujian. Melemahnya akidah dan tumbuhnya kesyirikan, hukum manusia menggantikan hukum Allah, merebaknya kebodohan, merajalelanya kemaksiatan dan fitnah seperti : transaksi riba, zina, khamr dan perjudian, hilangnya pemerintahan Islam sehingga kaum muslimin berjalan tanpa seorang pemimpin dan sebagainya. Kondisi inilah yang menjadikan dakwah harus tetap tegak.
Ummat akan terancam jika dakwah tidak tegak. Terancam oleh azhab yang tidak hanya menimpa para pelaku maksiat, tapi juga orang-orang shalih yang enggan berdakwah. Inilah gambaran yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah mitsal (perumpamaan)nya :
Sabda Nabi saw : "Perumpamaan orang yang menegakkan syari'ah Allah dan orang yang terjerumus (kedalam kemaksiatan),  seperti  kaum yang berlayar. Sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya di bawah. Adapun mereka yang dibawah jika menginginkan air, mereka harus melewati kawannya yang di atas. Kemudian mereka berkata: " Bagaimana jika kita lubangi kapal ini (untuk mendapatkan air) agar tidak mengganggu kawan kita yang di atas?". Jika mereka di biarkan melubanginya, maka semua akan binasa. Dan jika mereka di cegah, maka semua akan selamat. (HR. Bukhari)
Selain kondisi ummat yang telah digambarkan diatas, hal lain yang menjadikan dakwah sebagai sebuah prioritas adalah : sedikitnya jumlah para da'i dam mushlihin (para penyeru kebenaran) jika dibandingkan dengan jumlah ummat Islam, luasnya sebaran kaum muslimin dan beragamnya bangsa serta karakter mereka.

2.       Kemuliaan seorang Da'i
Banyak keutamaan bagi seorang da'i. Jika seseorang mentadabburinya dengan penuh keimanan, niscaya ia akan yakin dan teguh berada di atas jalannya. Diantara kemuliaan itu adalah :
a.       Meneladani jejak Rasulullah saw
Berdakwah berarti meneladani dan mengikuti jejak Rasulullah. Ia yang diutus untuk memberikan kabar gembira dan peringatan (basyiran wa nadziran) serta untuk menyempurnakan akhlak.
Allah berfirman : "Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.." (QS. Yusuf : 108)

b.      Meraih kemenangan dengan dakwah
Dakwah adalah kewajiban seluruh kaum muslimin. Meskipun demikian hendaklah ada segolongan yang bertafarrugh (konsentrasi) dan beramal untuknya. Ini seperti yang diserukan oleh Allah swt :
 "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran :104)
Iman Abdurrahman Nashir as Sa'di menafsiri ayat ini dengan : "Ini adalah petunjuk dari Allah kepada kaum mukminin, agar ada segolongan dari mereka yang konsentrasi dalam dakwah dan membimbing manusia ke jalan Islam".
Di sini Allah juga memberikan kesaksian, bahwa mereka yang berdakwah adalah kelompok muflihun (orang-orang yang beruntung). Sungguh mulia kedudukan mereka yang mendapatkan persaksian langsung dari Allah.

c.       Menjadi sebaik-baik manusia
Para da'i adalah manusia terbaik. Yaitu mereka yang shalih dan mushlih (memperbaiki diri dan orang lain).
Allah berfirman : "Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"                      (QS. Fushshilat :33)
Nabi saw memberikan semangat dan dorongan kepada Ali ra untuk selalu berdakwah, beliau bersabda : "Demi Allah, seandainya Allah memberikan hidayah kepada seseorang atas usahamu (mendakwahinya), niscaya lebih baik bagimu dari pada unta merah". (HR. Bukhari –Muslim). Dan dalam riwayat lain lebih baik dari dunia dan seisinya.

d.      Meraih sebanyak-banyaknya pahala dengan berdakwah
Dunia adalah daarul amal (tempat beramal) dan akhirat adalah daarul jazaa (tempat memperoleh balasan). Dengan berdakwah, seseorang akan meraih pahala berlipat. Bahkan pahala itu akan terus mengalir meskipun ia sudah tiada/meninggal.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا )) رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : "Barangsiapa menyeru kepada Hidayah Allah, maka ia mendapatkan pahala sebanyak pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia akan berdosa sebanyak dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikit pun. (HR. Muslim)

Nabi kita telah menjelaskan beberapa amal yang pahalanya akan terus mengalir. Sehingga ia pantas mendapat prioritas dan perhatian lebih dari seseorang yang berharap keridhaan Allah.
Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : "jika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari 3 hal : sedekah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang berdoa untuknya" (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah saw : " Diantara amal dan kebaikan yang akan terus mengalir kepada seseorang setelah dia meninggal adalah : ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak sholeh, Mushaf yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah singgah bagi Ibnu Sabil yang ia bangun, sungai yang ia alirkan dan sedekah  yang ia keluarkan ketika sehat yang akan ia temui setelah mati" (HR. Ibnu Majah, Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah dalah Shahihnya)
Subhanallah, siapakah diantara kita yang tidak ingin mendapatkan keuntungan yang terus mengalir, terus masuk ke dalam catatan amal sholeh kita? Maka dakwahlah jawabannya, ia adalah transaksi kita dengan Allah. Transaksi yang tidak akan merugi.

Kewajiban dakwah dalam Islam

Para ulama telah bersepakat (Ijma') bahwa dakwah adalah wajib. Hal ini didasarkan atas wajibnya Amar ma'ruf dan Nahi Munkar, yang ia merupakan inti dari amal dakwah. Hanya saja mereka berbeda pendapat : apakah Ia wajib 'ain atau wajib kifayah. Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat :

" Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.." (QS. Ali Imran : 104) dengan berkata : "Maksud ayat ini hendaklah sekelompok dari ummat berkonsentrasi dalam dakwah, meskipun pada asalnya dia adalah wajib bagi setiap muslim sesuai kemampuannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, berkata: Bersabda Rasulullah saw : "Barang siapa diantara kalian melihat kemunkaran, maka cegahnlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, cegahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya (perbuatan munkar tersebut) dan ia adalah selemah-lemahnya iman".
Imam An Nawawi berkata dalam menjelaskan Hadits ini : "Hanya orang yang berilmu saja yang boleh berdakwah, meskipun ilmu ini sifatnya relatif. Perkara-perkara wajib yang jelas wajibnya dan perkara haram yang jelas haramnya, seperti : wajibnya shalat dan puasa, atau haramnya zina dan minuman keras, maka semua kaum muslimin mengetahuinya.

Alangkah idealnya jika dakwah ini diemban oleh seseorang yang sholeh, 'alim, berwawasan luas, memiliki muamalah yang baik dengan masyarakat dan sabar atas segala fitnah mereka. Namun demikian, seorang muslim tidak boleh malas untuk berdakwah dengan alasan "saya tidak pandai " atau "saya banyak dosa"atau alasan lainnya.
Imam Nawawi menambahkan penjelasan terhadap hadits di atas " dan seorang da'i tidak disyaratkan harus menjadi sosok yang sempurna. Mengamalkan apa yang ia perintah dan menjauhi apa yang ia larang. Ini dikarenakan ia mempunyai dua kewajiban : kewajiban memperbaiki dirinya dan kewajiban berdakwah kepada orang lain. Jika ia lemah dalam satu sisi, tidaklah pantas untuk malas disisi yang lain". Ini berarti ketika berusaha memperbaiki orang lain, di saat yang sama kita dituntut untuk terus memperbaiki diri. Keshalihan seseorang menjadi faktor utama kesuksesan dakwah. "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". (QS. Al Baqarah : 286)

Semoga Allah swt menggabungkan kita dalam barisan orang-orang sholeh dan mushlih, serta sabar dengan segala ujiannya. Wallahu 'A'lam.

No comments:

Post a Comment