Friday, 14 December 2012

Beristigfar atas segala kekurangan kita


(Tafsir surat Al Muzzammil, ayat 20. Oleh: AM Yusuf.)

عن أنس رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (( قال الله تعالى : يا ابن آدم , إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أبالي . يا ابن آدم , لو بلعت ذنوبك عنان السمآء , ثم استغفرتني غفرت لك . يا ابن آدم , إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا , ثم لقيتني لاتشرك بي شيئا , لأتيتك بقرابها مغفرة )) رواه الترمذي
Dari Anas ra. beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Allah swt berfirman : “Wahai manusia, sesungguhnya tidaklah engkau berdoa dan berharap kepadaku, niscaya Aku ampuni segala dosamu, apapun itu. Wahai manusia, sekiranya dosamu memenuhi hingga ke atas langit, kemudian engkau memohon ampun, niscaya Aku ampuni. Wahai manusia, sekiranya engkau datang dengan dosa sepenuh isi bumi, namun engkau tidak menyekutukanKu, niscaya Aku akan datang dengan ampunan seisinya (bumi) pula”. HR. Tirmidzi

Tafsir surat Al Muzzammil ayat 20

20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam ayat terakhir dari Surat ini kita menemukan keringanan dan kemudahan Ilahi. Seruan Qiyamullail telah di sambut oleh Rasulullah dan para sahabat. Punggung-punggung mereka jauh dari tempat tidur, di malam hari mereka menunaikan shalat hingga bengkak kaki mereka karena lamanya berdiri. Kemudian Al Qur’an berkomentar : Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa kalian menunaikan qiyamullail, Ia melihatmu ketika kalian bersujud. Allah pun mengetahui bahwa kalian tidak mampu memperkirakan waktu malam dengan perkiraan yang tepat, jika kalian menambah dari yang di fardhukan maka itu berat bagi kalian, namun jika kalian mengurangi maka kalian merasa bersalah. Maka Allah mengampuni kalian dan memberikan kemudahan dan keringanan. Hendaklah kalian shalat sesuai kadar kemampuan kalian.
Karenanya, shalat malam hari diperintahkan selama badan segar dan tidak mengantuk. Jika kantuk mulai terasa hendaklah beristirahat, agar ia mendatangi shalat dengan Thuma’ninah.Bagi yang sakit tidak diperintahkan untuk shalat berdiri, ia bisa melakukannya dengan duduk. Bahkan bila shalat malam itu terasa sangat memberatkan (ketika sakit) maka ia boleh meninggalkannya, sementara pahalanya tetap dicatat. Begitu pun dengan yang melakukan perjalanan (musafir). Kondisinya menuntut adanya keringanan. Maka baginya diringankanlah shalat fardhu dengan jama’ dan qashar.
Ringkasnya dalam ayat ini terdapat dua jenis keringanan :
1.       Keringanan bagi yang shahih (sehat) dan muqim (diam, tidak bepergian). Baginya diberi keleluasaan untuk shalat malam selama kondisinya masih segar (tidak mengantuk), dan sepertiga malam yang akhir lebih diutamakan.
2.       Keringanan bagi orang sakit dan musafir. Baik perjalanan dalam urusan niaga, ibadah, jihad, haji, menuntut ilmu dan sebagainya. Maka ia menyesuaikan dengan kondisinya.
Maka shalat malamlah semampu kalian dan tunaikanlah shalat wajib serta zakat dari harta kalian, juga bersedekahlan sebagai sebuah “pinjaman kepada Allah (qardh)” yang kebaikannya akan kekal bagi kalian dan balasan yang berlipat ganda. Apa saja yang kalian tunaikan untuk diri kalian dari sedekah dan amal shalih di dunia, maka akan di dapatkan balasannya di akhirat lebih baik dari apa yang telah diberikan balasannya di dunia.
Bagian akhir surat ini ditutup dengan perintah Allah untuk memperbanyak istighfar. Hikmah besar di sabaliknya adalah bahwa setiap hamba (mukmin) tidak terlepas dari berbagai taqshir (kekurangan) dalam beribadah (khususnya disini qiyamullail). Mungkin ia mengerjakannya dengan “asal” (kurang khusyuk, malas) atau bahkan meninggalkannya sama sekali.

Ringkasan hukum-hukum yang terdapat dalam surat Al Muzzammil :

Allah swt telah memerintahkan Rasulullah dengan beberapa hal :
1.       Berqiyamullail sepertiga malam atau setengahnya atau dua pertiganya.
2.       Membaca Al Qur’an dengan tartil.
3.       Berdzikir kepada Allah di waktu malam dan siang dengan Tahmid, Tasbih dan shalat
4.       Bertawakkal penuh kepada Allah dan bersandar kepadanya dalam segala urusan.
5.       Bersabar terhadap segala celaan kaum kafir (yang menuduh ia sebagai tukang sihir atau penyair), dan meninggalkan  mereka dengan sikap yang baik, serta menyerahkan sepenuhnya urusan mereka kepada Allah, niscaya akan terlihat akibat buruk yang menimpa mereka.
6.       Allah memberikan keringanan dalam hal qiyamullail, setelah terasa berat kepada mereka karena beberapa uzhur, serta mencukupkan dengan apa yang mereka mampu. Sesungguhnya dalam shalat fardhu, zakat dan istighfar  terdapat kebaikan yang banyak.

Sebab-sebab terampuninya dosa seorang hamba :

1.       Berdoa dengan penuh harap terhadap ijabah
2.       Syarat-syarat terkabulnya doa, penghalang dan adab dalam berdoa :
§  Hadirnya hati dan penuh harap dengan ijabah. Rasulullah saw bersabda: “Berdoalah kalian dengan penuh keyakinan akan di ijabah. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai”
§  Yakin dalam berdoa dan tidak ragu-ragu. Rasulullah melarang seseorang berdoa “Ya Allah ampunilah aku jika engkau mau, Ya Allah rahmatilah aku jika engkau mau.Tapi hendaklah engkau yakin dan benar-benar meminta, karena sesungguhnya  Allagh berkuasa, tidak ada yang memaksaNya.(HR.Muslim)
§  Memaksa (Al Ilhah) dalam berdoa. Siapa yang mengetuk pintu, niscaya akan dibuka baginya. Allah ingin melihat hambanya merendahkan diri dalam beribadah kepadanya. Dalam sebuah atsar diriwayatkan bahwa bila seorang hamba berdoa dan Allah mencintainya, Maka Allah berkata : “Wahai Jibril, jangan engkau buru-buru memenuhi hajatnya, karena Aku suka mendengarkannya berdoa”.
§  Isti’jal (terburu-buru) dan meninggalkan berdoa. Rasulullah melarang seseorang beristi’jal dalam berdoa kemudian tidak melakukannya lagi, karena menyangka tidak pernah dikabulkan doanya. Ia merupakan penghalang diterimanya doa. Rasulullah saw bersabda : “ Akan dikabulkan setiap doa selama kalian tidak beristi’jal, dengan mengatakan : Aku telah berdoa tapi tidak dikabulkan”. (Muttafaq Alaih).
§  Rizki yang halal. Diantara penghalang doa adalah bila seseorang tidak lagi memperhatikan dari mana sumber rizkinya, adakah ia halal atau haram. Dalam hadits disebutkan  : “Seseorang berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya : “Ya Rabbi..ya Rabbi”. Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia hidup dari sumber yang haram. Maka bagaimana doanya bisa dikabulkan”. (HR. Thabrani)
Terkadang seseorang berdoa untuk kepentingan dunianya. Maka dengan rahmatNya, Allah akan mengabulkannya atau menggantinya dengan hal lain yang lebih baik. Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seseorang berdoa kecuali Allah akan memberikan apa yang ia minta, atau akan diselamatkan dari marabahaya. Itu selama ia tidak berdoa dengan sesuatu yang dosa atau memutuskan shilaturahim”

Diantara adab dalam berdoa adalah :

1.       memilih waktu mustajab
2.       Mendahuluinya dengan wudhu dan shalat
3.       Menghadap Kiblat dan mengangkat tangan
4.       Memulai doa dengan memuji Allah dan shalawat kepada Nabi saw
5.       Mengucapkan shalawat ditengah-tengah doa dan menutupnya dengan lafazh Aamin
6.       Tidak mengkhususkan doa untuk diri sendiri, tetapi juga untuk saudaranya yang lain.
7.       Berhusnuzhzhon kepada Allah, dan mengharapkan terkabulnya doa.
8.       Mengakui berbagai dosa dan kesalahan dirinya.
9.       Merendahkan suara dan khusyuk.

No comments:

Post a Comment