(Tafsir surat Al Muzzammil, ayat 20. Oleh: AM
Yusuf.)
عن أنس رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه
وسلم يقول : (( قال الله تعالى : يا ابن آدم , إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على
ما كان منك ولا أبالي . يا ابن آدم , لو بلعت ذنوبك عنان السمآء , ثم استغفرتني
غفرت لك . يا ابن آدم , إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا , ثم لقيتني لاتشرك بي
شيئا , لأتيتك بقرابها مغفرة )) رواه الترمذي
Dari Anas ra. beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:
Allah swt berfirman : “Wahai manusia, sesungguhnya tidaklah engkau berdoa dan
berharap kepadaku, niscaya Aku ampuni segala dosamu, apapun itu. Wahai manusia,
sekiranya dosamu memenuhi hingga ke atas langit, kemudian engkau memohon ampun,
niscaya Aku ampuni. Wahai manusia, sekiranya engkau datang dengan dosa sepenuh
isi bumi, namun engkau tidak menyekutukanKu, niscaya Aku akan datang dengan
ampunan seisinya (bumi) pula”. HR. Tirmidzi
Tafsir surat Al Muzzammil ayat 20
20. Sesungguhnya Tuhanmu
mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam,
atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari
orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang.
Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas
waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa
yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu
orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari
sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan
Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah
sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman
yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu
memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang
paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam ayat terakhir dari Surat ini kita menemukan keringanan dan
kemudahan Ilahi. Seruan Qiyamullail telah di sambut oleh Rasulullah dan para
sahabat. Punggung-punggung mereka jauh dari tempat tidur, di malam hari mereka
menunaikan shalat hingga bengkak kaki mereka karena lamanya berdiri. Kemudian
Al Qur’an berkomentar : Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa kalian menunaikan
qiyamullail, Ia melihatmu ketika kalian bersujud. Allah pun mengetahui bahwa
kalian tidak mampu memperkirakan waktu malam dengan perkiraan yang tepat, jika
kalian menambah dari yang di fardhukan maka itu berat bagi kalian, namun jika
kalian mengurangi maka kalian merasa bersalah. Maka Allah mengampuni kalian dan
memberikan kemudahan dan keringanan. Hendaklah kalian shalat sesuai kadar
kemampuan kalian.
Karenanya, shalat malam hari diperintahkan selama badan segar dan tidak
mengantuk. Jika kantuk mulai terasa hendaklah beristirahat, agar ia mendatangi
shalat dengan Thuma’ninah.Bagi yang sakit tidak diperintahkan untuk
shalat berdiri, ia bisa melakukannya dengan duduk. Bahkan bila shalat malam itu
terasa sangat memberatkan (ketika sakit) maka ia boleh meninggalkannya,
sementara pahalanya tetap dicatat. Begitu pun dengan yang melakukan perjalanan
(musafir). Kondisinya menuntut adanya keringanan. Maka baginya
diringankanlah shalat fardhu dengan jama’ dan qashar.
Ringkasnya dalam ayat ini terdapat dua jenis keringanan :
1. Keringanan
bagi yang shahih (sehat) dan muqim (diam, tidak bepergian).
Baginya diberi keleluasaan untuk shalat malam selama kondisinya masih segar
(tidak mengantuk), dan sepertiga malam yang akhir lebih diutamakan.
2. Keringanan
bagi orang sakit dan musafir. Baik perjalanan dalam urusan niaga, ibadah,
jihad, haji, menuntut ilmu dan sebagainya. Maka ia menyesuaikan dengan
kondisinya.
Maka shalat malamlah semampu kalian dan tunaikanlah shalat wajib serta
zakat dari harta kalian, juga bersedekahlan sebagai sebuah “pinjaman kepada
Allah (qardh)” yang kebaikannya akan kekal bagi kalian dan balasan yang
berlipat ganda. Apa saja yang kalian tunaikan untuk diri kalian dari sedekah
dan amal shalih di dunia, maka akan di dapatkan balasannya di akhirat lebih
baik dari apa yang telah diberikan balasannya di dunia.
Bagian akhir surat ini ditutup dengan perintah Allah untuk memperbanyak
istighfar. Hikmah besar di sabaliknya adalah bahwa setiap hamba (mukmin) tidak
terlepas dari berbagai taqshir (kekurangan) dalam beribadah (khususnya disini
qiyamullail). Mungkin ia mengerjakannya dengan “asal” (kurang khusyuk, malas)
atau bahkan meninggalkannya sama sekali.
Ringkasan hukum-hukum yang terdapat dalam surat
Al Muzzammil :
Allah swt telah memerintahkan Rasulullah dengan beberapa hal :
1. Berqiyamullail
sepertiga malam atau setengahnya atau dua pertiganya.
2. Membaca Al
Qur’an dengan tartil.
3. Berdzikir
kepada Allah di waktu malam dan siang dengan Tahmid, Tasbih dan shalat
4. Bertawakkal
penuh kepada Allah dan bersandar kepadanya dalam segala urusan.
5. Bersabar
terhadap segala celaan kaum kafir (yang menuduh ia sebagai tukang sihir atau
penyair), dan meninggalkan mereka dengan
sikap yang baik, serta menyerahkan sepenuhnya urusan mereka kepada Allah, niscaya
akan terlihat akibat buruk yang menimpa mereka.
6. Allah
memberikan keringanan dalam hal qiyamullail, setelah terasa berat kepada mereka
karena beberapa uzhur, serta mencukupkan dengan apa yang mereka mampu. Sesungguhnya
dalam shalat fardhu, zakat dan istighfar
terdapat kebaikan yang banyak.
Sebab-sebab
terampuninya dosa seorang hamba :
1. Berdoa dengan
penuh harap terhadap ijabah
2. Syarat-syarat
terkabulnya doa, penghalang dan adab dalam berdoa :
§ Hadirnya hati
dan penuh harap dengan ijabah. Rasulullah saw bersabda: “Berdoalah kalian
dengan penuh keyakinan akan di ijabah. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima
doa dari hati yang lalai”
§ Yakin dalam
berdoa dan tidak ragu-ragu. Rasulullah melarang seseorang berdoa “Ya Allah ampunilah
aku jika engkau mau, Ya Allah rahmatilah aku jika engkau mau.Tapi hendaklah
engkau yakin dan benar-benar meminta, karena sesungguhnya Allagh berkuasa, tidak ada yang
memaksaNya.(HR.Muslim)
§ Memaksa (Al
Ilhah) dalam berdoa. Siapa yang mengetuk pintu, niscaya akan dibuka
baginya. Allah ingin melihat hambanya merendahkan diri dalam beribadah
kepadanya. Dalam sebuah atsar diriwayatkan bahwa bila seorang hamba
berdoa dan Allah mencintainya, Maka Allah berkata : “Wahai Jibril, jangan
engkau buru-buru memenuhi hajatnya, karena Aku suka mendengarkannya berdoa”.
§ Isti’jal (terburu-buru) dan meninggalkan
berdoa. Rasulullah melarang seseorang beristi’jal dalam berdoa kemudian
tidak melakukannya lagi, karena menyangka tidak pernah dikabulkan doanya. Ia
merupakan penghalang diterimanya doa. Rasulullah saw bersabda : “ Akan dikabulkan
setiap doa selama kalian tidak beristi’jal, dengan mengatakan : Aku
telah berdoa tapi tidak dikabulkan”. (Muttafaq Alaih).
§ Rizki yang
halal. Diantara penghalang doa adalah bila seseorang tidak lagi memperhatikan
dari mana sumber rizkinya, adakah ia halal atau haram. Dalam hadits
disebutkan : “Seseorang berdoa dengan
menengadahkan kedua tangannya : “Ya Rabbi..ya Rabbi”. Sedangkan makanannya
haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia hidup dari sumber yang haram.
Maka bagaimana doanya bisa dikabulkan”. (HR. Thabrani)
Terkadang seseorang berdoa untuk kepentingan
dunianya. Maka dengan rahmatNya, Allah akan mengabulkannya atau menggantinya
dengan hal lain yang lebih baik. Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seseorang
berdoa kecuali Allah akan memberikan apa yang ia minta, atau akan diselamatkan
dari marabahaya. Itu selama ia tidak berdoa dengan sesuatu yang dosa atau
memutuskan shilaturahim”
Diantara adab dalam berdoa adalah :
1. memilih
waktu mustajab
2. Mendahuluinya
dengan wudhu dan shalat
3. Menghadap
Kiblat dan mengangkat tangan
4. Memulai
doa dengan memuji Allah dan shalawat kepada Nabi saw
5. Mengucapkan
shalawat ditengah-tengah doa dan menutupnya dengan lafazh Aamin
6. Tidak
mengkhususkan doa untuk diri sendiri, tetapi juga untuk saudaranya yang lain.
7. Berhusnuzhzhon
kepada Allah, dan mengharapkan terkabulnya doa.
8. Mengakui
berbagai dosa dan kesalahan dirinya.
9. Merendahkan
suara dan khusyuk.
No comments:
Post a Comment