Monday, 17 December 2012

Menjadi istri seperti Khadijah (Oleh: Muhammad Yusuf, Lc)




عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ )) (رواه مسلم)

Dari Abdullah bin 'Amr, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalihah" (HR. Muslim)

Setiap kita  berharap memiliki rumah tangga yang Ideal. Sang suami berharap mendapat istri se-shalihah Khadijah ra. Begitu pun sang istri berharap mendapatkan pasangan suami yang shalih dan penyayang, sebagaimana tercermin dalam sosok Rasulullah saw. Sebuah harapan yang ideal bukan?.
Agar harapan itu menjadi jelas, maka marilah kita melihat sosok agung seorang istri pendamping Rasulullah saw, Khadijah ra. Ia adalah wanita terbaik di zamannya. Semoga tulisan ini mampu memberikan sumbangan kepda setiap pasangan yang mendambakan suasana Sakinah, Mawaddah dan Rahmah dalam bangunan rumah tangganya.
Siapakah sosok agung Khadijah ?
Khadijah terlahir dari keluarga mulia dan terhormat. Ayahnya Khuwailid bin Naufal kepala suku Bani Asad dan ibunya Fathimah al Qurasyiyyah, seorang gadis tercantik di Makkah. Khadijah mewarisi kecantikan ibunya, mewarisi kecerdasan dan kekuatan tekad dari Ayahnya serta mewarisi ilmu dan hikmah dari pamannya Waraqah bin Naufal.
Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Khadijah telah menikah dengan 2 saudagar terhormat dikaumnya. Pertama adalah Abu Halah bin Zurarah at Tamimi.namun kemudian wafat dan meninggalkan dua orang putri, Halah dan Hindun. Kemudian ia menikah kembali dengan 'Atiq bin 'Aidz, seorang pemuda dari Bani Makhzum. Namun tak lama ia pun dipanggil Allah tanpa meninggalkan keturunan. Khadijah menjadi wanita terkaya dikalangan Quraisy. Berkat kecerdasannya, ia mampu mengelola kekayaan itu dengan baik.(1) [1]
"Khadijah adalah wanita Quraisy yang paling baik nasabnya dan paling mulia akhlaqnya, paling banyak hartanya, banyak dari kaumnya yang ingin meminangnya seandainya mereka mampu" (2)[2]

Peran Khadijah di samping Rasulullah
Untuk melihat lebih dekat dengan sosok Khadijah ra, mari kita mendengar komentar dari sang suami agung, Rasulullah saw. Bagaimana ia begitu mencintai dan menghargai jasa-jasa nya, terutama ats pengorbananya dalam dakwah. Ia adalah salah satu faktor kesuksesan Risalah Islam.
1.       Khadijah menjadi penyejuk suami dan pemberi solusi.
...قَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ: كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ... (رواه مسلم)
Khadijah berkata : "Janganlah engkau merasa takut dan bergembiralah. Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan menghinakanmu. Sesungguhnya engkau selalu menyambung shilaturahim, berkata jujur, membantu yang lemah, dermawan, memuliakan tamu dan mengutamakan orang lain..." (HR. Muslim)
Petikan riwayat ini terjadi ketika awal turun wahyu. Sekembalinya Rasulullah saw dari Gua Hira dan bertemu Jibril, ia merasa sangat khawatir dan ketakutan. Ia sama sekali tidak menduga bahwa dirinya akan menjadi manusia pilihan pengemban Risalah langit.
Di tengah ketakutan dan kekhwatiran sang suami, Khadijah hadir dengan seribu kemuliaan seorang istri. Ia menenangkan sang suami. Akal sehat dan fitrahnya mengatakan bahwa seseorang yang memiliki karakter  "selalu menyambung shilaturahim, berkata jujur, membantu yang lemah, dermawan, memuliakan tamu dan mengutamakn orang lain" tidak mungkin ditimpa kehinaan. Justeru sebaliknya.
Selanjutnya, Khadijah dengan segera mengajak sang suami menemui Waraqah bin Naufal. Ia adalah pamannya yang beragama Nasrani pada masa Jahiliyah dan sangat paham akan agamanya. Ia telah tua dan buta serta menulis Injil dalam bahasa Ibrani. Dikemudian hari Waraqah menjadi orang kedua yang beriman kepada kenabian Rasulullah saw. Disini kita melihat sebuah sulusi sangat tepat yang dilakukan Khadijah, hingga kemudian Rasulullah mendapat ketenangan serta kejelasan tentang peristiwa yang tengah di alaminya.

2.       Khadijah, wanita terbaik.

عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال خير نسائها مريم وخير نسائها خديجة (رواه البخاري ومسلم)

Dari Ali bin Abi Thalib ra, dari Rasulullah saw bersabda : "Wanita terbaik adalah Maryam dan wanita terbaik adalah Khadijah" (HR. Bukhari-Muslim).

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung kualitas amal. Semakin berat tantangan yang dihadapi dan semakin besar pengorbanan, maka pahala akan semakin besar.  Mendampingi sang pengemban Risalah bukanlah sebuah tanggung jawab yang ringan. Apalagi Khadijah menghabiskan hidupnya bersama Rasulullah dalam periode Makkah. Periode dimana dakwah masih dalam proses Ta'sis (membangun pondasi). Kondisi yang  sangat berat ditengah konspirasi dan intimidasi kaum Quraisy. Hanya mereka yang teguh dan berjiwa besar yang mampu menempuhnya. Khadijah telah mencurahkan seluruh potensinya: harta, jiwa dan semua kesabarannya dalam mengantarkan dakwah ini. Pantaslah jika ia menjadi wanita terbaik (3)[3].

Petikan riwayat berikutnya menunjukkan tingginya penghargaan Allah swt  kepada Khadijah. Ia berkirim salam – melalui Jibril – kepadanya :

عن أبي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : suatu saat Jibril datang kepada Nabi saw lalu berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepadamu membawa hidangan, jika ia telah datang sampaikanlah salam dari Rabbnya (Allah swt) dan dariku. Serta berikan kabar gembira berupa Istana di surga yang terbuat dari mutiara, penuh ketenangan dan tiada rasa lelah di dalamnya. (HR. Muslim).

Sesungguhnya Allah Maha melihat dan Maha mendengar. Maha mengetahui segala apa yang terjadi di Alam semesta. Adalah khadijah wanita terbaik, pendamping hidup utusannya dalam menyampaikann Risalah. Orang yang paling banyak berkorban di awal dakwah Islam.

"sesungguhnya Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik". Allah sangat dekat dengan hambanya. Rahmat dan keridhaanya selalu menyertai para kekasihnya.Inilah dia Khadijah. Mendapatkan usapan Salam dari Rabbnya. Dari Dzat yang Maha suci pemilik alam semesta. Alangkah mulianya ucapan salam ini. Salam yang menandakan keridhaan dan kedekatan. Ucapan Salam yang agung  dari pemilik segala keagungan, untuk seseorang yang agung diantara hambanya.  

3.      Khadijah di mata Rasulullah saw.
عن عائشة رضي الله عنها قالت ما غرت على أحد من نساء النبي صلى الله عليه وسلم ما غرت على خديجة وما رأيتها ولكن كان النبي صلى الله عليه وسلم يكثر ذكرها وربما ذبح الشاة ثم يقطعها أعضاء ثم يبعثها في صدائق خديجة فربما قلت له كأنه لم يكن في الدنيا امرأة إلا خديجة فيقول إنها كانت وكانت وكان لي منها ولد (رواه البخاري)

Dari Aisyah ra berkata : saya tidak cemburu kepada seorang pun dari isteri-isteri Nabi sebagaimana cemburuku kepada Khodijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Namun nabi selalu menyebutnya. Jika ia menyembelih kambing, maka ia memotong-motongnya kemudian menghadiakannya kepada teman-teman Khodijah. Hingga aku berkata : "seakan-akan di dunia ini tidak ada perempun kecuali Khodijah". Maka Nabi menjawab : "Sesungguhnya Khodijah itu begini dan begitu (menyebutkan keutamaannya) dan Aku mendapatkan keturunan darinya. (HR. Bukhari)

Tahun wafatnya Khadijah ra dikenal dengan 'Amul Huzn (tahun kesedihan). Dalam tahun itu Rasulullah merasa sangat kehilangan 2 sosok pembela paling dekat (pembela dakwah dimuka bumi, setelah pertolongan Allah swt), yaitu Khadijah dan Abu Thalib pamannya. Khadijahlah yang menjadi tempat tumpahan segala perasaan, tempat berbagi dan berdiskusi. Ia telah mendapatkan pembelaan berupa: harta , kasih sayang, kelapangan dada dan kesabaran untuk selalu bersama-sama dalam "penderitaan" dakwah.

Sementara Abu Thalib, ia adalah tokoh Quraisy yang menjadi benteng setia bagi keselematan dan keamanan jiwa Rasulullah, meskipun ia tetap dalam kekafiran sampai akhir hayatnya.

Rasulullah telah menemukan dalam diri Khadijah sebgaimana yang diungkapkan oleh Al Aqqad : " Muhammad tidak menemukan Khadijah sebagai seorang wanita polos yang selalu kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia menemukan sosok yang berhati mulia, berjiwa agung, tempat ia mendapat kestabilan jiwa dan ketenangan hati".(4)[4]

Ia – Rasulullah – adalah Al Amin. Pribadi yang setia. Setelah kepergian Khadijah ra dan ia menikah dengan beberapa wanita lain (ummahatul mukminin, termasuk Aisyah ra) , tidak lantas sosoknya hilang dari hati Rasulullah. Ia selalu menyertai. " Demi Allah, Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik darinya", itulah kesetiaan. Ia bersabda:


...قال : "لا والله ما أبدلنى الله خيراً منها، آمنت بى إذ كفر الناس، وصدقتنى إذ كذبنى الناس، وواستنى بمالها إذ حرمنى الناس، ورزقنى الله منها أولاداً إذ حرمنى أولاد النساء" ...تعليق الألباني على مختصر صحيح مسلم

Beliau bersabda : "...Demi Allah, Allah tidak menggantinya dengan yang lebih baik. Ia beriman kepadaku sementara manusia kafir, ia membenarkanku ketika manusia mendustakanku dan Allah mengaruniaiku darinya keturunan yang Allah tidak memberikanku keturunan dari wanita selainnya." (catatan Imam Al Bani terhadap Shahih Muslim)

Sebagaimana Khadijah mengagumi sosok suaminya, maka di hadits ini kita pun melihat Rasulullah menunjukkan penghargaan tulus bagi istrinya. Ia menyebutkan Khadijah sebagai pribadi pemilik banyak kemuliaan : " Ia beriman kepadaku sementara manusia kafir, ia membenarkanku ketika manusia mendustakanku dan Allah mengaruniakanku darinya keturunan yang Allah tidak memberikanku keturunan dari wanita selainnya". Sebuah keharmonisan keluarga yang sangat ideal. Ada saling memuji dan menghargai. Saling menjaga dan saling percaya. Saling membantu dan saling mengingatkan. Tidak ada kecurigaan atau buruk sangka. Begitulah seharusnya kita.

Menyelami mutiara kemuliaan


Setelah kita melihat beberapa potret kehidupan Rasulullah saw bersama Khadijah ra, mari kita mengumpulkan dan merangkai kemuliaan tersebut untuk dijadikan teladan. Agar kita bisa mengingatnya di kala datang kemarahan, kecemburuan dan ketidak percayaan melanda. Agar kita mampu bermuhasabah akan diri kita, pasangan kita dan interaksi kita selama ini.

1.      Mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan yang terbaik.
Sebelum hidup bersama Rasulullah saw, Khadijah adalah sosok mulia dan terhormat di kalangan kaumnya. Ini menjadi pelajaran bagi kita – yang belum menikah- untuk mempersiapkan diri menjadi yang terbaik.  "...dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) " (QS. An Nuur : 26).

Seorang calon suami diperintahkan untuk memilih calon ibu terbaik bagi anak-anaknya. Sebagaimana syair arab mengatakan :

Ibu adalah Madrasah (tempat belajar)
Jika engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

2.      Bersama suami dalam suka dan duka.
Seorang istri yang baik akan menjadi pendamping yang baik. Jika suami seorang dai, yang menyeru kepada Islam dan menyebarkan rahmat di tengah ummat, maka ia tampil digaris depan barisan pembela. Ia berkorban dengan segala potensi yang dimiliki : harta, pikiran, ilmu, profesi, pengaruh dan kepemimpinannya. Namun sebaliknya jika suami lengah atau menyimpang, maka ia datang untuk menasihati dan mengingatkan dengan cara yang terbaik. Isteri yang baik tidak menjadi beban bagi suaminya.

Syaikh Muhammad Munir Ghadban dalam kitabnya Fikih Sirah Nabawiyah menyimpulkan  sebuah pelajaran dari dari potret kehidupan Rasulullah saw bersama Khadijah, ia mengatakan  : Sungguh ia adalah sebuah pelajaran bagi seorang muslimah da'iyah, agar menjadikan dakwah kepada Allah dan Rasulnya tujuan utama hidup dan eksistensinya di dunia dengan menjadikan  Khodijah ra sebagai teladannya. Hendaklah juga ia menjadikan hidupnya, hartanya dan jabatannya  untuk dakwah fi sabilillah, meninggikan panji Islam disamping seorang suami daiyah. Ia menolong bukan membebani, meringankan segala kesulitan dan problematikanya. Tidak malahmelemahkan atau menjerumuskan hingga iameninggalkan dakwah.
Ia juga pelajaran bagi seorang da'iyah muslim. Hendaklah ia mengetahui kelebihan dan tanggung jawab besar yang  dipikul isterinya, kesabarannya dalam menunaikan tugas ..." (5)[5]

3.      Saling menghargai dan  memuji .
Khadijah memuji Rasulullah dangan ungkapan : " Sesungguhnya engkau selalu menyambung shilaturahim, berkata jujur, membantu yang lemah, dermawan, memuliakan tamu dan mengutamakan orang lain...". Kemudian Rasulullah membalas pujian itu : "...Demi Allah, Allah tidak menggantinya dengan yang lebih baik. Ia beriman kepadaku sementara manusia kafir, ia membenarkanku ketika manusia mendustakanku dan Allah mengaruniaiku darinya keturunan yang Allah tidak memberikanku keturunan dari wanita selainnya". Ucapan itu beliau sampaikan lama setelah Khadijah wafat.

Itulah sikap saling menghargai dan pengakuan terhadap kelebihan pasangan. Baik pasangan kita itu ada di tempat atau sedang di luar. Terlebih lagi jika sikap itu ditunjukkan ketika orang tersebut sudah meninggal, ia adalah sebaik-baik penghormatan dan pembelaan.

Begitu juga, hendaklah setiap pasangan menjadikan "urusan rumah"nya sebagai rahasia. Ia tidak menjadikannya sebagai konsumsi umum atau mempublishnya disembarang tempat. Ia hanya boleh membukanya dalam kondisi darurat.


4.      Memiliki visi dan misi yang sama.
Visi dan misi setiap muslim sudah jelas, yaitu beribadah kepada Allah swt. Siapa yang masih bingung dengan tujuan hidupnya, hendaklah ia mengevaluasi kembali tentang eksistensinya sebagai seorang muslim.

Kehidupan keluarga akan menjadi sangat nyaman apabila keduanya memahami tujuan agung ini. Semua aktivitas, keputusan dan berbagai pertimbangan dalam lingkup keluarga terfokus pada Ridha Allah swt. Profesi masing-masing (suami dan istri) boleh berbeda, namun tujuan harus tetap sama. Keduanya saling mendukung, mengingatkan, menghargai dan melengkapi.

Rasulullah saw adalah penghulu para dai, sementara Khadijah tampil sebagai pendukung utama disetiap langkah dakwahnya. Begitulah setiap istri seorang muslim. Ia akan sangat menentukan kesuksesan setiap langkah sang suami, baik ditempat ia bekerja, dalam dakwah atau pun terkait ibadahnya kepada Allah.

Itulah beberapa pelajaran dari kisah mulia Khadijah ra. Semoga kita yang masih dalam perjalanan kehidupan ini bisa menjadikannya sebagai teladan. Tulisan ini tentu saja masih sangat kurang untuk memenuhi hak Ummul Mukminin Khadijah ra dalam penghormatan dan penuturan kemuliaannya. Semoga Allah merahmatinya bersama kita dengan Rahmat yang seluas-luasnya. Wallahu A'lam.












[1] Lihat : Nisa haula rasul, Muhammad Ali Quthb dkk. Al Maktabah Al Ashriyah. Hal.36
[2] Fikih Sirah, Munir Muhammad Ghadban, Hal. 118
[3] Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud terbaik adalah terbaik di zamannya.
[4] Al Aqqad, Fatimah az Zahra. Hal 221.
[5] Fikih Sirah, Munir Muhammad Ghadban, Hal. 139.

Friday, 14 December 2012

Beristigfar atas segala kekurangan kita


(Tafsir surat Al Muzzammil, ayat 20. Oleh: AM Yusuf.)

عن أنس رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (( قال الله تعالى : يا ابن آدم , إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أبالي . يا ابن آدم , لو بلعت ذنوبك عنان السمآء , ثم استغفرتني غفرت لك . يا ابن آدم , إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا , ثم لقيتني لاتشرك بي شيئا , لأتيتك بقرابها مغفرة )) رواه الترمذي
Dari Anas ra. beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Allah swt berfirman : “Wahai manusia, sesungguhnya tidaklah engkau berdoa dan berharap kepadaku, niscaya Aku ampuni segala dosamu, apapun itu. Wahai manusia, sekiranya dosamu memenuhi hingga ke atas langit, kemudian engkau memohon ampun, niscaya Aku ampuni. Wahai manusia, sekiranya engkau datang dengan dosa sepenuh isi bumi, namun engkau tidak menyekutukanKu, niscaya Aku akan datang dengan ampunan seisinya (bumi) pula”. HR. Tirmidzi

Tafsir surat Al Muzzammil ayat 20

20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam ayat terakhir dari Surat ini kita menemukan keringanan dan kemudahan Ilahi. Seruan Qiyamullail telah di sambut oleh Rasulullah dan para sahabat. Punggung-punggung mereka jauh dari tempat tidur, di malam hari mereka menunaikan shalat hingga bengkak kaki mereka karena lamanya berdiri. Kemudian Al Qur’an berkomentar : Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa kalian menunaikan qiyamullail, Ia melihatmu ketika kalian bersujud. Allah pun mengetahui bahwa kalian tidak mampu memperkirakan waktu malam dengan perkiraan yang tepat, jika kalian menambah dari yang di fardhukan maka itu berat bagi kalian, namun jika kalian mengurangi maka kalian merasa bersalah. Maka Allah mengampuni kalian dan memberikan kemudahan dan keringanan. Hendaklah kalian shalat sesuai kadar kemampuan kalian.
Karenanya, shalat malam hari diperintahkan selama badan segar dan tidak mengantuk. Jika kantuk mulai terasa hendaklah beristirahat, agar ia mendatangi shalat dengan Thuma’ninah.Bagi yang sakit tidak diperintahkan untuk shalat berdiri, ia bisa melakukannya dengan duduk. Bahkan bila shalat malam itu terasa sangat memberatkan (ketika sakit) maka ia boleh meninggalkannya, sementara pahalanya tetap dicatat. Begitu pun dengan yang melakukan perjalanan (musafir). Kondisinya menuntut adanya keringanan. Maka baginya diringankanlah shalat fardhu dengan jama’ dan qashar.
Ringkasnya dalam ayat ini terdapat dua jenis keringanan :
1.       Keringanan bagi yang shahih (sehat) dan muqim (diam, tidak bepergian). Baginya diberi keleluasaan untuk shalat malam selama kondisinya masih segar (tidak mengantuk), dan sepertiga malam yang akhir lebih diutamakan.
2.       Keringanan bagi orang sakit dan musafir. Baik perjalanan dalam urusan niaga, ibadah, jihad, haji, menuntut ilmu dan sebagainya. Maka ia menyesuaikan dengan kondisinya.
Maka shalat malamlah semampu kalian dan tunaikanlah shalat wajib serta zakat dari harta kalian, juga bersedekahlan sebagai sebuah “pinjaman kepada Allah (qardh)” yang kebaikannya akan kekal bagi kalian dan balasan yang berlipat ganda. Apa saja yang kalian tunaikan untuk diri kalian dari sedekah dan amal shalih di dunia, maka akan di dapatkan balasannya di akhirat lebih baik dari apa yang telah diberikan balasannya di dunia.
Bagian akhir surat ini ditutup dengan perintah Allah untuk memperbanyak istighfar. Hikmah besar di sabaliknya adalah bahwa setiap hamba (mukmin) tidak terlepas dari berbagai taqshir (kekurangan) dalam beribadah (khususnya disini qiyamullail). Mungkin ia mengerjakannya dengan “asal” (kurang khusyuk, malas) atau bahkan meninggalkannya sama sekali.

Ringkasan hukum-hukum yang terdapat dalam surat Al Muzzammil :

Allah swt telah memerintahkan Rasulullah dengan beberapa hal :
1.       Berqiyamullail sepertiga malam atau setengahnya atau dua pertiganya.
2.       Membaca Al Qur’an dengan tartil.
3.       Berdzikir kepada Allah di waktu malam dan siang dengan Tahmid, Tasbih dan shalat
4.       Bertawakkal penuh kepada Allah dan bersandar kepadanya dalam segala urusan.
5.       Bersabar terhadap segala celaan kaum kafir (yang menuduh ia sebagai tukang sihir atau penyair), dan meninggalkan  mereka dengan sikap yang baik, serta menyerahkan sepenuhnya urusan mereka kepada Allah, niscaya akan terlihat akibat buruk yang menimpa mereka.
6.       Allah memberikan keringanan dalam hal qiyamullail, setelah terasa berat kepada mereka karena beberapa uzhur, serta mencukupkan dengan apa yang mereka mampu. Sesungguhnya dalam shalat fardhu, zakat dan istighfar  terdapat kebaikan yang banyak.

Sebab-sebab terampuninya dosa seorang hamba :

1.       Berdoa dengan penuh harap terhadap ijabah
2.       Syarat-syarat terkabulnya doa, penghalang dan adab dalam berdoa :
§  Hadirnya hati dan penuh harap dengan ijabah. Rasulullah saw bersabda: “Berdoalah kalian dengan penuh keyakinan akan di ijabah. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai”
§  Yakin dalam berdoa dan tidak ragu-ragu. Rasulullah melarang seseorang berdoa “Ya Allah ampunilah aku jika engkau mau, Ya Allah rahmatilah aku jika engkau mau.Tapi hendaklah engkau yakin dan benar-benar meminta, karena sesungguhnya  Allagh berkuasa, tidak ada yang memaksaNya.(HR.Muslim)
§  Memaksa (Al Ilhah) dalam berdoa. Siapa yang mengetuk pintu, niscaya akan dibuka baginya. Allah ingin melihat hambanya merendahkan diri dalam beribadah kepadanya. Dalam sebuah atsar diriwayatkan bahwa bila seorang hamba berdoa dan Allah mencintainya, Maka Allah berkata : “Wahai Jibril, jangan engkau buru-buru memenuhi hajatnya, karena Aku suka mendengarkannya berdoa”.
§  Isti’jal (terburu-buru) dan meninggalkan berdoa. Rasulullah melarang seseorang beristi’jal dalam berdoa kemudian tidak melakukannya lagi, karena menyangka tidak pernah dikabulkan doanya. Ia merupakan penghalang diterimanya doa. Rasulullah saw bersabda : “ Akan dikabulkan setiap doa selama kalian tidak beristi’jal, dengan mengatakan : Aku telah berdoa tapi tidak dikabulkan”. (Muttafaq Alaih).
§  Rizki yang halal. Diantara penghalang doa adalah bila seseorang tidak lagi memperhatikan dari mana sumber rizkinya, adakah ia halal atau haram. Dalam hadits disebutkan  : “Seseorang berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya : “Ya Rabbi..ya Rabbi”. Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia hidup dari sumber yang haram. Maka bagaimana doanya bisa dikabulkan”. (HR. Thabrani)
Terkadang seseorang berdoa untuk kepentingan dunianya. Maka dengan rahmatNya, Allah akan mengabulkannya atau menggantinya dengan hal lain yang lebih baik. Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seseorang berdoa kecuali Allah akan memberikan apa yang ia minta, atau akan diselamatkan dari marabahaya. Itu selama ia tidak berdoa dengan sesuatu yang dosa atau memutuskan shilaturahim”

Diantara adab dalam berdoa adalah :

1.       memilih waktu mustajab
2.       Mendahuluinya dengan wudhu dan shalat
3.       Menghadap Kiblat dan mengangkat tangan
4.       Memulai doa dengan memuji Allah dan shalawat kepada Nabi saw
5.       Mengucapkan shalawat ditengah-tengah doa dan menutupnya dengan lafazh Aamin
6.       Tidak mengkhususkan doa untuk diri sendiri, tetapi juga untuk saudaranya yang lain.
7.       Berhusnuzhzhon kepada Allah, dan mengharapkan terkabulnya doa.
8.       Mengakui berbagai dosa dan kesalahan dirinya.
9.       Merendahkan suara dan khusyuk.

الصبر على المكاره في سبيل الدعوة


الصبر على المكاره في سبيل الدعوة

Sabar dalam berdakwah

(Tafsir Surat Al Muzzammil, ayat 9-19. Oleh : AM. Yusuf)

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.                        (QS. Ali Imran : 200)
Rasulullah saw bersabda : “ … dan barang siapa berusaha sabar, maka Allah akan memberikan kesabaran. Dan tidaklah seseorang diberikan karunia yang lebih baik dan lebih besar dari kesabaran” (HR. Bukhari Muslim)

Tafsir Surat Al Muzzammil (ayat 9-19)

10. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik
Setelah Allah memerintahkan Nabinya dengan Shalat secara Khusus dan dengan berdzikir secara umum, yang dengan keduanya akan menghasilkan kekuatan dalam memikul beban-beban dan berbagai aktivitas berat dakwah, Allah memerintahkannya untuk sabar terhadap segala cacian dan ejekan para kafir Quraisy.
Bersabarlah terhadap apa yang mereka perbincangkan terhadap ajaran yang kamu bawa dan Allah (Rabb) yang kamu sembah.
Tinggalkanlah mereka dengan sikap yang baik (sebab saat itu sikap Hajr - meninggalkan - adalah lebih maslahat), jangan pedulikan celotehan mereka dan hindarkan percakapan yang tidak berguna dengan mereka. Jika kamu berdebat, maka debatlah dengan cara yang baik.
11. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar.
Ulin ni’mah adalah mereka para pemegang kekayaan  yang melampaui batas dan pembuat kerusakan ketika Allah meluaskan rizkinya, sebagaimana firman Allah : “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Al Alaq :6-7)
Alla mengancam kaum musyrikin dengan azab yang pedih. Kemudian Allah berkata kepada Nabinya: Serahkan padaku urusan mereka, Aku yang akan menyiksanya. Mereka yang menikmati rizki yang aku beri, tangguhkanlah mereka  sebentar saja, kemudian kamu akan melihat azab yang akan Aku timpakan kepada mereka.
 12. Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala. 13. Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih.
Itulah belenggu-belenggu yang berat yang Allah ikatkan kepada kaki-kaki mereka. Setiap kali mereka ingin naik, maka Allah tarik mereka ke dasar neraka.
Di dalamnya mereka memakan makanan yang menghancurkan kerongkongan. yaitu makanan yang sangat pahit dan busuk yang sangat menyengat. Kemudian siksa yang sangat pedih. Itu semua adalah balasan yang sesuai bagi siapa saja yang kufur terhadap nikmat.
 14. Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan.
Hari itu bumi bergoncang hebat.. Gunung-gunung hancur berkeping-keping bagaikan kapas yang beterbangan, atau debu pasir yang diterbangkan. Padahal sebelumnya ia adalah batu karang yang kokoh.
 15. Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir'aun. 16. Maka Fir'aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.
Allah swt menegur penduduk Makkah dan menggetarkan hati-hati mereka, hingga seakan-akan tercerabut dari tempatnya. Mereka diingatkan dengan Kisah Fir’aun yang sombong dan Allah telah menimpakan kepadanya azab dari Dzat yang Maha Kuat  terhadap segala sesuatu. Fir’aun telah mendurhakai Rasul itu hingga Allah menyiksanya dengan azab yang berat, dan sekarang Allah telah mengutus kepada kalian Wahai Quraisy, maka janganlah kalian mendurhakainya atau Allah akan menimpakan kepada kalian apa yang menimpa Fir’aun.
 17. Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. 18. Langit(pun) menjadi pecah belah pada hari itu. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana.
Jika kalian tidak disiksa didunia, maka bagaimana kalian bisa selamat dari azab di akhirat. Sedangkan ia adalah hari yang menjadikan anak-anak beruban dan memecahkan langit. Azab Allah adalah benar adanya, Dialah zat yang berkuasa untuk melakukan sesuatu.

 19. Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya.
Kematian dan berita yang benar tentang Kiamat adalah tadzkirah. Hendaklah kita mengambil I’tibar dan menjadikannya sebagai penghalang dari diri kita dan kemaksiatan kepada Allah. Utsman Bin Affan berkata “kafaa bil mauti waidza” (cukuplah kematian itu sebagai nasihat dan pelajaran).
Ayat ini juga merupakan dalil bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada manusia untuk memilih diantara dua jalan. Jika ia memilih jalan kebaikan maka ia akan berujung dengan nikmatnya surga, namun jika sebaliknya ia akan berakhir di pedihnya siksa neraka. Pendapat ini berbeda dengan keyakinan yang dimiliki oleh kalangan Jabariyah (golongan yang meyakini bahwa manusia bagaikan boneka, tidak memiliki kuasa sama sekali dalam beramal).

Tadabbur ayat

Sabar adalah sebuah Karakter khusus yang dimiliki manusia dan tidak dimiliki oleh malaikat atau binatang. Malaikat dikaruniai akal dan tidak dikaruniai syahwat yang mampu memalingkannya dari ketaatan, sementara binatang diciptakan dengan syahwat sebagai karakternya. Manusia memiliki akal dan syahwat, maka barang siapa yang mampu mengendalikan syahwat dengan akalnya, ia bagaikan malaikat yang berjalan diatas bumi. Namun jika syahwat yang mengendalikan akalnya, maka ia menjadi seperti binatang atau bahkan lebih sesat.
Sabar terbagi menjadi beberapa bagian :
1.      Sabar dalam menunaikan ketaatan dan kewajiban
2.      Sabar dalam mengendalikan nafsu terhadap syahwat dunia dan kenikmatan yang haram.
3.      Sabar dalam menghadapi musibah dan ujian kehidupan, serta ridha dengan qadha dari Allah dengan sikap qana’ah.
4.      Sabar dalam jihad memperjuangkan kebenaran.
Berdakwah adalah  aktivitas ishlahul ummah (memperbaiki ummat) dari berbagai kerusakan dan membimbingnya menuju jalan Islam. Sudah sunnatullah akan terjadi ujian dan tantangan baik dari internal (jiwa kita) atau dari pihak-pihak yang memusuhi Islam. Kesabaran dan keteguhan mutlak diperlukan, agar dakwah tetap tegar demi meraih tujuannya.

Kisah dan ibrah

1.      Bersama Zaid bin Haritsah Rasulullah dihujani batu ketika orang-orang Thaif menolak ajakan dakwahnya dan menyakiti Rasulullah ketika beliau hendak pulang. Kepala zaid luka parah akibat lemparan batu dan darah mengalir dari kaki Raulullah membasahi bumi Thaif. Saat itulah Rasulullah mengadu kepada Allah atas kelemahan dalam dakwahnya dan tidak sedikit pun melaknat orang-orang Thaif yang durhaka.
2.      Dalam perang Qadisiyah melawan Persia, Seorang sahabiyah bernama Khansa di muliakan dengan syahidnya keempat puteranya. Tak ada rasa sedih atau pun menyesal, justeru ia bersyukur dengan berkata : “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan syahidnya mereka, Aku berharap agar bisa kembali berkumpul di surgaNya”.
3.      Keluarga Yasir (Yasir, Ammar bin Yasir dan Sumayyah) adalah figur keluarga yang teguh menghadapi siksaan dari kaum kafir. Keimanan terasa lebih manis dan indah bagi mereka,hingga mampu mengalahkan rasa sakit yang diderita.
Kuala Lumpur, 6 Juni 2009

Qiyamullaill dan Madrasah Malam


(Tafsir Surat Al Muzzammil, ayat 1-9. Oleh AM.Yusuf))

بسم الله الرحمن الرحيم

Muqaddimah

Surat Al Muzzammil terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Qalam. Dinamai Al Muzzammil (orang yang berselimut) diambil dari perkataan Al Muzzammil yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan orang yang berkemul ialah Nabi Muhammad s.a.w.
·         Surat Al Muzzammil adalah surat yang berisi seruan ilahi kepada Nabi saw untuk berqiyamullail. ia wajib bagi Nabi saw dan disunnahkan bagi ummatnya. Sebagaimana firman Allah :
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.(QS. Al Isra’ :79)
·         Berbagai riwayat menyatakan bahwa surat ini turun pada periode awal kenabian, satu masa dengan surat al muddatstsir yang turun setelah surat al ‘Alaq. Rasulullah saw hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliyyah, kemudian Allah menjadikannya menyukai tahannuts (beribadah) di Gua Hira untuk bertafakkur tentang keagungan Allah dan penciptaan Alam semesta. Hingga datanglah Jibril as dengan 5 ayat surat Al ‘Alaq.
·         Surat ini memberikan gambaran tentang periode dakwah Rasulullah saw. Allah menyeru Nabi saw untuk melakukan qiyamullail, memperbanyak shalat dan membaca Al Qur’an, berdzikir dengan khusyu’ dan bertawakkal sepenuhnya kepada Allah, sabar menghadapi berbagai cobaan dari kaum kafir, serta menyerahkannya kepada Allah untuk memberikan siksa kepada mereka.
·         Surat ini di akhiri dengan kelembutan dan rahmat Allah, keringanan dan kemudahan, taujih untuk taat, dan penegasan tentang keluasan ampunannya bagi hamba yang memohon ampun.
·         Qiyamullail adalah bekal ruhiyah agar tetap teguh di jalan Allah, agar selalu sabar dan berjalan dengan penuh tawakkal.

Tafsir surat Al Muzzammil :

1.      Hai orang yang berselimut (Muhammad),
2.      bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
3.      (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
4.      atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

Kesimpulan dan pelajaran:
·         Merupakan bagian dari rahmat Allah, bahwa nabi dan sahabat tidak di perintahkan untuk qiyamullail seluruh malam, tapi hanya sebagiannya saja.
·         Allah memerintahkan Rasulnya untuk Qiyamullail sepertiga, setengah atau dua pertiga malam dan membaca Al Qur’an dengan tartil yang di sertai hadirnya hati untuk memperoleh tadabbur dan kepahaman.
·         Interaksi dengan Al Qur’an yang intensif merupakan kewajiban setiap mukmin, seperti irulah generasi para sahabat dan salafushsholih.

5.      Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.

Kesimpulan dan pelajaran :
·         Allah telah memudahkan Al Qur’an untuk dibaca. Meskipun demikian, ia memiliki timbangan yang berat dan pengaruh yang besar bagi kesucian hati. Ia tidak mengandung kesulitan dan keraguan.

6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di    waktu itu lebih berkesan.
 7. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).

Kesimpulan dan pelajaran :
·         Membaca Al Qur’an di waktu malam akan lebih berkesan dan lebih khusyuk. Ada keserasian antara bacaan lisan dan tadabburnya hati.
·         Siang adalah waktu untuk bekerja dan bermuamalah. Maka jadikanlah malam sebagai waktu untuk beristirahat dan bermunajat kepada Allah.

8. Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. 9. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.

Kesimpulan dan pelajaran:
·         Menghadaplah kepada Allah dengan hati yang hadir, hendaklah selalu berdzikir (mengingat Allah) dan merendahkan diri di hadapannya dengan ikhlash. Ia adalah pencipta semua keajaiban dan pemilik keagungan, serta jadikanlah tawakkal itu hanya kepadanya.







Renungan

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
·         Dari Jabir r.a., ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam” (HR. Muslim dan Ahmad)
·         Sujud di Mihrab, istighfar di penghujung malam dan air mata munajat merupakan ciri khas orang-orang mukmin. Jika ahli dunia mengira bahwa surganya terletak pada materi, wanita dan gedung mewah, maka sesungguhnya : “Surga orang mukmin terletak pada Mihrabnya”.
·         Tak ada satu pun tokoh-tokoh besar dalam Islam sejak zaman Rasulullah saw, Sahabat dan Tabi’in hingga zaman Iman Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyah dan para Ulama lainnya kecuali mereka tergabung dalam “Madrasah Malam” sebagai tempat penempaan spiritual melalui Qiyamullail.
·         Orang yang lulus dari madrasah malam dapat memberikan pengaruh yang positif kepada generasi berikutnya. Bisyr ibnul Harits al Haafi berkata : “Cukuplah bagimu sebagai buktinya, bahwa ada suatu kaum yang telah tiada, tetapi dapat menghidupkan hati yang mati dengan mengingat mereka. Dan ada pula kaum lainnya yang hidup, tetapi dapat membuat hati keras dengan melihat mereka”.


Maraji’ :
1.      Tafsir al Qur’anul A’zhim (ibnu Katsir)
2.      Taisir kariimirrahman ( Syekh Abdurrahman Nashir As Sa’di)
3.      Nuzhatul muttaqin Syarhi Riyadhushsholihin (Imam An Nawawi)
4.      Ar Raqa’iq (Pelembut hati) oleh Muhammad Ahmad Ar Rasyid.
5.      Ahdaafu kulli surah wa maqashiduha (Dr. Abdullah Mahmud Syahatah)