Menempuh kehidupan berjama'ah pasti memunculkan
berbagai pernik dan warna. Baik berupa bahagianya kebersamaan atau pun
problematika dan gesekan karakter. Kita memang diciptakan dengan beragam
kapasitas, kecenderungan, emosi dan kreatifitas.
"Yusuf, buatkan bubur kacang Ijo ya..!", seru
Ali (nama samaran) padaku disuatu pagi. Ia memintanya padaku karena aku baru
saja selesai lari pagi sementara ia baru saja turun dan berjalan
perlahan-lahan.
Lalu ku siapkan semuanya. Mulai dari menyalakan kompor,
menyiapkan segala bumbu dan kacang ijonya. Namun tak lama kemudian berbagai
komentar membuatku sedikit sakit hati.
"Kalau masak bubur kacang ijo enaknya pake Ricecooker
aja..!"
"Gulanya dipotong-potong pake pisau yang besar, itu
terlalu kecil...!"
"Nanti gula dan jahenya dimasukkan kalau kacang
ijonya sudah matang ya...!
"Beras merahnya dicampur langsung ya dengan kacang
ijo...!"
Semua komentar itu berasal dari salah seorang saudaraku
bernama Dani (nama samaran). Sosok yang kami angkat sebagai pemimpin bukan
karena kapasitas ilmunya, tapi karena ia yang paling tua diantara kami.
Karakternya "pengatur" sampai ke hal-hal yang paling kecil.
Selang 10 menit kemudian, Ali selesai dari jalan
paginya dan langsung saja "survei" kacang ijo yang dia minta.
"Beras merahnya semua aja, kalau dibiarkan
dikulkas nanti tidak di makan...Mubazir..", pintanya.
"Lho kok gulanya sudah dimasukkin... ya... nanti
kacang ijonya gak matang deh...", sergah Dani dengan nada menyesalkan
perbuatan Ali yang memasukkan gula dan Jahe sebelum kacang ijonya matang.
"Tambahin air aja", seru Dani.
"air zamzam aja", usul Ali.
"Jangan, air zamzam itu berkahnya diminum biasa,
bukan untuk dimasak", bantah Rofi.
"Fuiih...." , keluhku. Aku yang diminta
masak, kenapa mereka yang "ngatur", aku terdiam, rasanya kreatifitas
ku tidak berharga. Masih mending kalau mereka berkomentar sambil senyum atau
sedikit bercanda, mereka serius.
Saudaraku, menghargai pendapat dan kreatifitas saudara
kita adalah salah satu refleksi ketawadhuan. Masing-masing kita diberikan
banyak kelebihan. Seseorang dari kita tidak perlu merasa lebih dari saudaranya
hingga ia berhak untuk mengatur atau memberikan saran dengan kesan memaksakan
kehendak. Alangkah baiknya jika kita memberikan kebebasan kepada saudara kita,
tidak "sok tahu" atau "ngatur" dengan apa yang ia lakukan. Mereka
punya karakter. Mereka punya kebiasaan. Mereka pun punya "Life style"
yang mungkin banyak berbeda dengan kita. Biarkan ia dengan dirinya dan jangan
banyak diganggu (selama tidak melanggar syari'at). Tidak selalu pendapat kita
lebih benar dari mereka. Alangkah baiknya jika seseorang bertanya atau meminta
saran, barulah disitu kita memberikan komentar dan pendapat kita.
Dalam sebuah sabdanya Rasulullah saw bersabda :
عن أبي
هريرة رضي الله تعالى عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : (( من حسن
إسلام المرء تركه ما لا يعنيه)). حديث حسن
رواه الترمذي وغيره وهكذا
Dari
Abu Hurairah ra, ia berkata : Bersabda Rasulullah saw : "Diantara tanda
baiknya Islam seseorang adalah ketika ia meninggalkan hal-hal yang bukan
menjadi urusannya". (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan
lainnya)
Bagaimana perasaan anda jika seseorang mengomentari
anda seperti berikut :
" Kalau baca buku jangan sambil tiduran...!"
"Buka laptop jangan diatas kasur, nanti ia panas,
harus pake alas...!"
"jangan 2 kilo, beli 10 kilo aja.. biar
cukup..!"
"Kalau begini jangan begitu, harusnya begini
aja...!"
"Bukan begitu, tapi harusnya begini...!"
Tentu anda tidak suka bukan ?. Padahal itu semua adalah
hak anda dan tidak ada urusan dengan sang "komentator". Terlebih jika
yang berkomentar sering terlihat melakukan hal-hal yang selama ini ia
melarangnya bagi orang lain. Saya kira kita semuanya tidak suka dengan yang
namanya "diatur" karena kita bukan lagi anak-anak.
Hal kedua, keberadaan seorang pemimpin itu adalah
perlu. Sekecil apapun urusan kita selama ia terkait dengan kebersamaan. Dua
orang, 3 orang atau lebih... perlu adanya seorang pemimpin. Pemimpinlah nanti
yang akan memutuskan menu masakan dan cara memasaknya, menentukan rute
perjalanan dan kapan harus beristirahat dan pemimpinlah yang akan menentukan
keputusan diantara dua pilihan. Tentu saja dengan meminta dan mendengar
pendapat dari "bawahannya".
Tentukanlah koki anda ketika akan memasak, pilihlah
seorang ketua ketika akan melakukan perjalanan. Begitulah pentingnya seorang
pemimpin. Sebagaimana layaknya presiden untuk sebuah negara, suami dalam sebuah
rumah tangga dan direktur utama dalam sebuah perusahaan.
Rasulullah menegaskan hal ini dalam sabdanya :
وعن
أَبي سعيد وأبي هُريرة رضي اللهُ تَعَالَى عنهما، قالا : قَالَ رسولُ الله - صلى الله
عليه وسلم - : (( إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ في سَفَرٍ فَليُؤَمِّرُوا
أحَدَهُمْ )) حديث حسن ، رواه أَبُو داود بإسنادٍ
حسن .
Dari Abu sa'id dan Abu Hurairah ra, mereka berkata :
Bersabda Rasulullah saw : " Jika 3 orang melakukan perjalanan,
hendaklah mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin". (HR.
Abu Dawud, dengan sanad Hasan).
Satu orang pemimpin adalah ketenangan. Dua orang
pemimpin adalah kehancuran. 3 orang apalagi...
Allah swt berfirman :
... وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ
إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ
اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
"... dan sekali-kali
tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya,
masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian
dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari
apa yang mereka sifatkan itu". (QS. Al
Mukminun : 91)
لَوْ
كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلاَّ اللَّهُ لَفَسَدَتَا
...
"Sekiranya ada di
langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak
binasa,..." (QS. Al Anbiya : 22)
Akhirnya, agar peristiwa "kacang ijo" tidak
terulang lagi maka saya mengusulkan agar setiap kali memasak, ada satu
"Direktur" yang ditunjuk sebagai koki. Sementara yang lainnya siap
untuk membantu...
No comments:
Post a Comment