Tuesday, 27 November 2012

Kacang Ijo dan Sang “Direktur”


Menempuh kehidupan berjama'ah pasti memunculkan berbagai pernik dan warna. Baik berupa bahagianya kebersamaan atau pun problematika dan gesekan karakter. Kita memang diciptakan dengan beragam kapasitas, kecenderungan, emosi dan kreatifitas.
"Yusuf, buatkan bubur kacang Ijo ya..!", seru Ali (nama samaran) padaku disuatu pagi. Ia memintanya padaku karena aku baru saja selesai lari pagi sementara ia baru saja turun dan berjalan perlahan-lahan.
Lalu ku siapkan semuanya. Mulai dari menyalakan kompor, menyiapkan segala bumbu dan kacang ijonya. Namun tak lama kemudian berbagai komentar membuatku sedikit sakit hati.
"Kalau masak bubur kacang ijo enaknya pake Ricecooker aja..!"
"Gulanya dipotong-potong pake pisau yang besar, itu terlalu kecil...!"
"Nanti gula dan jahenya dimasukkan kalau kacang ijonya sudah matang ya...!
"Beras merahnya dicampur langsung ya dengan kacang ijo...!"
Semua komentar itu berasal dari salah seorang saudaraku bernama Dani (nama samaran). Sosok yang kami angkat sebagai pemimpin bukan karena kapasitas ilmunya, tapi karena ia yang paling tua diantara kami. Karakternya "pengatur" sampai ke hal-hal yang paling kecil.
Selang 10 menit kemudian, Ali selesai dari jalan paginya dan langsung saja "survei" kacang ijo yang dia minta.
"Beras merahnya semua aja, kalau dibiarkan dikulkas nanti tidak di makan...Mubazir..", pintanya.
"Lho kok gulanya sudah dimasukkin... ya... nanti kacang ijonya gak matang deh...", sergah Dani dengan nada menyesalkan perbuatan Ali yang memasukkan gula dan Jahe sebelum kacang ijonya matang.
"Tambahin air aja", seru Dani.
"air zamzam aja", usul Ali.
"Jangan, air zamzam itu berkahnya diminum biasa, bukan untuk dimasak", bantah Rofi.
"Fuiih...." , keluhku. Aku yang diminta masak, kenapa mereka yang "ngatur", aku terdiam, rasanya kreatifitas ku tidak berharga. Masih mending kalau mereka berkomentar sambil senyum atau sedikit bercanda, mereka serius.

Saudaraku, menghargai pendapat dan kreatifitas saudara kita adalah salah satu refleksi ketawadhuan. Masing-masing kita diberikan banyak kelebihan. Seseorang dari kita tidak perlu merasa lebih dari saudaranya hingga ia berhak untuk mengatur atau memberikan saran dengan kesan memaksakan kehendak. Alangkah baiknya jika kita memberikan kebebasan kepada saudara kita, tidak "sok tahu" atau "ngatur" dengan apa yang ia lakukan. Mereka punya karakter. Mereka punya kebiasaan. Mereka pun punya "Life style" yang mungkin banyak berbeda dengan kita. Biarkan ia dengan dirinya dan jangan banyak diganggu (selama tidak melanggar syari'at). Tidak selalu pendapat kita lebih benar dari mereka. Alangkah baiknya jika seseorang bertanya atau meminta saran, barulah disitu kita memberikan komentar dan pendapat kita.
Dalam sebuah sabdanya Rasulullah saw bersabda :
عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : (( من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه)). حديث حسن رواه الترمذي وغيره وهكذا
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Bersabda Rasulullah saw : "Diantara tanda baiknya Islam seseorang adalah ketika ia meninggalkan hal-hal yang bukan menjadi urusannya". (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan lainnya)

Bagaimana perasaan anda jika seseorang mengomentari anda seperti berikut :
" Kalau baca buku jangan sambil tiduran...!"
"Buka laptop jangan diatas kasur, nanti ia panas, harus pake alas...!"
"jangan 2 kilo, beli 10 kilo aja.. biar cukup..!"
"Kalau begini jangan begitu, harusnya begini aja...!"
"Bukan begitu, tapi harusnya begini...!"
Tentu anda tidak suka bukan ?. Padahal itu semua adalah hak anda dan tidak ada urusan dengan sang "komentator". Terlebih jika yang berkomentar sering terlihat melakukan hal-hal yang selama ini ia melarangnya bagi orang lain. Saya kira kita semuanya tidak suka dengan yang namanya "diatur" karena kita bukan lagi anak-anak.
Hal kedua, keberadaan seorang pemimpin itu adalah perlu. Sekecil apapun urusan kita selama ia terkait dengan kebersamaan. Dua orang, 3 orang atau lebih... perlu adanya seorang pemimpin. Pemimpinlah nanti yang akan memutuskan menu masakan dan cara memasaknya, menentukan rute perjalanan dan kapan harus beristirahat dan pemimpinlah yang akan menentukan keputusan diantara dua pilihan. Tentu saja dengan meminta dan mendengar pendapat dari "bawahannya".
Tentukanlah koki anda ketika akan memasak, pilihlah seorang ketua ketika akan melakukan perjalanan. Begitulah pentingnya seorang pemimpin. Sebagaimana layaknya presiden untuk sebuah negara, suami dalam sebuah rumah tangga dan direktur utama dalam sebuah perusahaan.
Rasulullah menegaskan hal ini dalam sabdanya :
وعن أَبي سعيد وأبي هُريرة رضي اللهُ تَعَالَى عنهما، قالا : قَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - : (( إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ في سَفَرٍ فَليُؤَمِّرُوا أحَدَهُمْ )) حديث حسن ، رواه أَبُو داود بإسنادٍ حسن .

Dari Abu sa'id dan Abu Hurairah ra, mereka berkata : Bersabda Rasulullah saw : " Jika 3 orang melakukan perjalanan, hendaklah mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin". (HR. Abu Dawud, dengan sanad Hasan).
Satu orang pemimpin adalah ketenangan. Dua orang pemimpin adalah kehancuran. 3 orang apalagi...
Allah swt berfirman :
... وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
"... dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu". (QS. Al Mukminun : 91)
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلاَّ اللَّهُ لَفَسَدَتَا ...
"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa,..." (QS. Al Anbiya : 22)
Akhirnya, agar peristiwa "kacang ijo" tidak terulang lagi maka saya mengusulkan agar setiap kali memasak, ada satu "Direktur" yang ditunjuk sebagai koki. Sementara yang lainnya siap untuk membantu...





No comments:

Post a Comment