Sebenarnya saya tidak yakin kalau saya bisa menulis. Belum pernah
berpengalaman apalagi mengikuti pelatihan kepenulisan. Saya juga masih kurang
membaca. Hanya, setiap kali saya membaca buku, apalagi tulisannya bagus, saya
mulai terkagum-kagum. Dan sedikit demi sedikit mencoba juga untuk menulis.
Bagi saya yang berlatar belakang Islami, satu tulisan yang menarik adalah
yang membuat hati saya sadar akan kewajiban, dilandasi oleh dalil yang kuat dan
shohih, menghadirkan fakta-fakta, penuh dengan wawasan dunia luar serta
membukakan jalan bagi saya.
Menulis itu banyak sekali manfaatnya. Buat kita pribadi, orang lain,
saudara dekat, bahkan bagi sekian generasi mendatang. Tulisan itu adalah
prasasti modern. Itu satu frasa yang saya ingat sejak SMU dulu. Terpampang
jelas di atas pintu perpustakaan Masjid. Ya. Buku dan tulisan itu prasasti
modern yang akan mengabadi. Apalagi didukung oleh dunia internet yang sekali
kita posting, maka ia akan tersimpan selamanya.
Nah, Izinkan saya sedikit sharing mengapa kita harus menulis. Ini dari
sudut pandang saya saja. Dan saya yakin, diluar sana setiap orang memiliki
sudut pandang dan pendapat sendiri yang mungkin juga berisrisan dengan pendapat
saya ini.
1.
Ruang ekspresi
Dunia penulisan adalah dunia tanpa batas untuk beragam ekspresi. Kita bisa
menyalurkan emosi, bakat, pengalaman, pesan pribadi atau bahkan imajinasi kita
melalui tulisan. Jika kita teliti, batapa banyak ide yang berseliweran dalam
benak kita setiap hari. Tentang kehidupan. Tentang pendapat dan pandangan. Tentang
inovasi dan sebagainya. Nah, jika ide-ide tersebut tidak kita catat, tidak kita
tuangkan dalam bentuk tulisan, maka ketika berganti hari ide tersebut akan ikut
hilang. Bahkan tanpa jejak. Dan akan sulit rasanya menuangkannya kembali dalam
tulisan jika sudah terlalu lama. Meskipun ide utamanya kita masih ingat.
Kenapa? Karena ide itu selalu diiringi oleh suasana, motivasi dan gairah yang
hanya hadir pada saat datangnya ide tersebut.
Orang-orang besar dari dulu sampai sekarang, mereka membiasakan mempunyai
buku catatan kecil di sakunya. Atau kalau zaman sekarang mungkin dalam bentuk
“Note” dalam handphone atau laptop. Makanya disebut notebook. Atau yang agak
keren punya staff pribadi. Kenapa? Karena seperti yang dikatakan di awal, jika
tidak dicatat maka akan lupa.
2.
Menguatkan Ilmu
Kalau kita mau jujur, coba berapa banyak ilmu yang kita dapatkan sejak kita
belajar dulu? Katakanlah mulai dari sekolah Dasar. Jika rentang waktu menimba
ilmu kita 16 tahun (SD, SLTP, SMU dan 4 tahun S1) seharusnya sudah segudang
ilmu kita.
Namun apa yang terjadi pada kebanyakan orang? Termasuk saya. Setelah
selesai S1, mungkin yang terlihat hanyalah satu naskah skripsi yang dikerjakan berlarut-larut.
Padahal seharusnya selesai dalam beberapa bulan saja. Catatan yang lain? Buku-buku
atau tulisan kita yang lain? Entah kemana.
Kembali ke awal, bahwa salah satu fungsi menulis adalah menguatkan ilmu.
Ya, segala ilmu dan kemahiran yang pernah kita dapatkan.
Dalam hal ini, Sya’ir Imam Syafi’i sangat tepat sekali untuk kita simak.
Ini sya’irnya:
العِلمُ صَيدٌ والكِتابةُ قَيدُهُ --
قَيِّدْ صيودكَ بالحِبالِ الواثِقَة
فَمِن الحَماقَةِ أَنْ تَصيدَ غَزالَةً -- وتَترُكها بَينَ الخَلائقِ طالِقةَ
فَمِن الحَماقَةِ أَنْ تَصيدَ غَزالَةً -- وتَترُكها بَينَ الخَلائقِ طالِقةَ
“Ilmu itu bak binatang buruan dan menulis adalah talinya
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
Bodohlah anda jika memburu rusa
Dan (ketika sudah dapat) anda melepaskannya”
Imam syafi’i betul. Ini sering terjadi pada diri kita. Ilmu hanya kita
dengar saja. Kalau pun mencatat hanya sekedarnya saja. Tidak serius. Pantas
saja, bertahun-tahun kita belajar, tapi hasilnya seperti tidak setimpal.
3.
Lebih serius membaca
Ketika kita menulis tentang satu tema, maka segala hal terkait tema itu
akan terus berputar-putar dalam kepala kita. Bahkan, jika kita belum menemukan
jawabannya maka kita akan mencari rujukan untuk memuaskan segudang pertanyaan
yang muncul.
Begitu juga ketika kita membaca satu tulisan yang beririsan dengan
konsentrasi tema tulisan kita. Maka kita akan membacanya dengan lebih serius,
mendalam, perlahan-lahan dan bukan asal membaca. Karena kita seolah menemukan
orang yang bisa memberikan jawaban dan informasi yang kita cari. Karenanya,
orang yang menulis pasti suka membaca. Atau paling tidak dia ada paksaan dan
keharusan untuk membaca. Tapi orang yang suka membaca, belum bisa dipastikan
dia suka menulis.
Jadi jelas ya, bahwa dengan menulis akan hadir gairah untuk membaca, dapat
menyerap dengan lebih serius dan mendalam apa yang di baca. Karena kita membaca
bukan untuk sekedar membaca, tapi membaca memang benar-benar untuk mencari
informasi. Atau minimal mencari bahan untuk tulisannya.
4.
Warisan untuk keluarga
Yang paling dekat dengan kita adalah keluarga kita. Isteri, anak-anak,
keluarga besar dan saudara terdekat. Ketika diawal saya mengatakan bahwa dengan
menulis itu kita dapat membantu orang, memudahkan orang dan memberikan informasi
kepada mereka, maka orang terdekat yang memerlukan manfaat-manfaat tersebut
adalah yang saya sebutkan tadi. Orang-orang yang ada di sekitar kita.
Ada banyak hal yang hadir dalam hati, jiwa dan fikiran kita yang tidak bisa
(atau tidak sempat) kita sampaikan dengan lisan atau perbuatan. Ungkapan rasa
kasih sayang, perhatian, pengajaran, informasi dan sebagainya. Namun dengan
tulisan dan dunia penulisan, semua itu dapat disampaikan dengan luasa. Tanpa
sekat. Tanpa batas ruang. Dan tanpa dibatas waktu. Kapan saja dan dimana saja.
Anda menginginkan anak-anak anda menjadi orang baik, memberikan mereka
panduan hidup, tips-tips sukses bahkan resep masakan?, semuanya bisa anda
sampaikan melalui tulisan. Atau jika ada suatu nasihat, pendapat dan saran yang
tidak kuasa anda menyampaikannya secara lisan, maka tulisan menjadi alternatif
yang sangat baik. Hebatnya lagi, tulisan dan perannya ini akan tetap berfungsi
hingga ketika anda sudah tiada sekalipun.
5.
Memberi manfaat bagi
orang lain.
Inilah saya fikir menjadi fungsi terbesar dari menulis itu. Ya, memberikan
manfaat kepada orang lain. Bukankah ilmu itu menjadi abadi dalam buku-buku dan
tulisan-tulisan? Bukankah kita masih mempelajari khazanah-khazanah silam yang
usianya bisa ribuan tahun? Begitulah kekuatan tulisan. Mengabadi. Langgeng.
Bisa saja tulisan kita sangat sederhana. Diksi dan alurnya biasa saja.
Namun ketika kita menulisnya dengan niat tulus, ingin memberikan manfaat kepada
orang lain, maka InshaAllah sangat besar manfaatnya.
Dan yakinlah, bahwa masing-masing kita memilik keunikan, peran dan
pandangan yang berbeda-beda. Jangan terlalu digelayuti oleh fikiran bahwa
“Tulisan saya buruk” “Tulisan saya tidak bermanfaat” “Ah sudah banyak orang
yang menulis tentang ini”. Fikiran-fikran demikian hanya akan menghambat kita
untuk mulai menulis. Yakinlah. Setiap kita punya cara pandang yang berbeda
meskipun tujuannya sama untuk menyebarkan kebaikan. Bahkan untuk satu tema yang
sama.
Saya jadi ingat satu sabda Nabi SAW: “Barangsiapa yang menunjukkan
kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sebanyak orang yang
melakukannya” (HR. Tirmidzi, dari Anas bin Malik).
Jika demikian peran dan manfaat dari menulis, Yuk kita coba menuliskan apa
yang kita bisa dan apa yang bermanfaat bagi orang lain.
Selamat menulis!
@AM. Yusuf
KL, 27 September 2016
Baarakallah Ustadz.
ReplyDeleteSaya pribadi selalu merasa punya bakat menulis. Hanya tdk PD untuk dibaca orang lain. Saya merasa masih banyak pelibatan perasaan yg terlalu pribadi dlm tulisan saya.
Berarti perlu terus dilatih ya dan di publish minimal ke teman.
Iya, silakan dilatih bakatnya. Saya juga masih belajar. Yang penting niatkan untuk memberi manfaat bagi orang lain. Mengasah ilmu dan berbagi. Syukur-syukur bisa jadi buku pada suatu hari nanti.
ReplyDelete"Buku kita hari ini adalah tulisan kemarin, dan tulisan kita hari ini adalah buku kita esok hari"