Wednesday, 28 September 2016

Mengapa Saya Harus Menulis?

Sumber Ilustrasi: Google

Sebenarnya saya tidak yakin kalau saya bisa menulis. Belum pernah berpengalaman apalagi mengikuti pelatihan kepenulisan. Saya juga masih kurang membaca. Hanya, setiap kali saya membaca buku, apalagi tulisannya bagus, saya mulai terkagum-kagum. Dan sedikit demi sedikit mencoba juga untuk menulis.

Bagi saya yang berlatar belakang Islami, satu tulisan yang menarik adalah yang membuat hati saya sadar akan kewajiban, dilandasi oleh dalil yang kuat dan shohih, menghadirkan fakta-fakta, penuh dengan wawasan dunia luar serta membukakan jalan bagi saya.

Menulis itu banyak sekali manfaatnya. Buat kita pribadi, orang lain, saudara dekat, bahkan bagi sekian generasi mendatang. Tulisan itu adalah prasasti modern. Itu satu frasa yang saya ingat sejak SMU dulu. Terpampang jelas di atas pintu perpustakaan Masjid. Ya. Buku dan tulisan itu prasasti modern yang akan mengabadi. Apalagi didukung oleh dunia internet yang sekali kita posting, maka ia akan tersimpan selamanya.

Nah, Izinkan saya sedikit sharing mengapa kita harus menulis. Ini dari sudut pandang saya saja. Dan saya yakin, diluar sana setiap orang memiliki sudut pandang dan pendapat sendiri yang mungkin juga berisrisan dengan pendapat saya ini.

1.      Ruang ekspresi

Dunia penulisan adalah dunia tanpa batas untuk beragam ekspresi. Kita bisa menyalurkan emosi, bakat, pengalaman, pesan pribadi atau bahkan imajinasi kita melalui tulisan. Jika kita teliti, batapa banyak ide yang berseliweran dalam benak kita setiap hari. Tentang kehidupan. Tentang pendapat dan pandangan. Tentang inovasi dan sebagainya. Nah, jika ide-ide tersebut tidak kita catat, tidak kita tuangkan dalam bentuk tulisan, maka ketika berganti hari ide tersebut akan ikut hilang. Bahkan tanpa jejak. Dan akan sulit rasanya menuangkannya kembali dalam tulisan jika sudah terlalu lama. Meskipun ide utamanya kita masih ingat. Kenapa? Karena ide itu selalu diiringi oleh suasana, motivasi dan gairah yang hanya hadir pada saat datangnya ide tersebut.

Orang-orang besar dari dulu sampai sekarang, mereka membiasakan mempunyai buku catatan kecil di sakunya. Atau kalau zaman sekarang mungkin dalam bentuk “Note” dalam handphone atau laptop. Makanya disebut notebook. Atau yang agak keren punya staff pribadi. Kenapa? Karena seperti yang dikatakan di awal, jika tidak dicatat maka akan lupa.

2.      Menguatkan Ilmu

Kalau kita mau jujur, coba berapa banyak ilmu yang kita dapatkan sejak kita belajar dulu? Katakanlah mulai dari sekolah Dasar. Jika rentang waktu menimba ilmu kita 16 tahun (SD, SLTP, SMU dan 4 tahun S1) seharusnya sudah segudang ilmu kita.

Namun apa yang terjadi pada kebanyakan orang? Termasuk saya. Setelah selesai S1, mungkin yang terlihat hanyalah satu naskah skripsi yang dikerjakan berlarut-larut. Padahal seharusnya selesai dalam beberapa bulan saja. Catatan yang lain? Buku-buku atau tulisan kita yang lain? Entah kemana.

Kembali ke awal, bahwa salah satu fungsi menulis adalah menguatkan ilmu. Ya, segala ilmu dan kemahiran yang pernah kita dapatkan.

Dalam hal ini, Sya’ir Imam Syafi’i sangat tepat sekali untuk kita simak. Ini sya’irnya:

العِلمُ صَيدٌ والكِتابةُ قَيدُهُ -- قَيِّدْ صيودكَ بالحِبالِ الواثِقَة
فَمِن الحَماقَةِ أَنْ تَصيدَ غَزالَةً -- وتَترُكها بَينَ الخَلائقِ طالِقةَ

“Ilmu itu bak binatang buruan dan menulis adalah talinya
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
Bodohlah anda jika memburu rusa
Dan (ketika sudah dapat) anda melepaskannya”

Imam syafi’i betul. Ini sering terjadi pada diri kita. Ilmu hanya kita dengar saja. Kalau pun mencatat hanya sekedarnya saja. Tidak serius. Pantas saja, bertahun-tahun kita belajar, tapi hasilnya seperti tidak setimpal.

3.      Lebih serius membaca

Ketika kita menulis tentang satu tema, maka segala hal terkait tema itu akan terus berputar-putar dalam kepala kita. Bahkan, jika kita belum menemukan jawabannya maka kita akan mencari rujukan untuk memuaskan segudang pertanyaan yang muncul.

Begitu juga ketika kita membaca satu tulisan yang beririsan dengan konsentrasi tema tulisan kita. Maka kita akan membacanya dengan lebih serius, mendalam, perlahan-lahan dan bukan asal membaca. Karena kita seolah menemukan orang yang bisa memberikan jawaban dan informasi yang kita cari. Karenanya, orang yang menulis pasti suka membaca. Atau paling tidak dia ada paksaan dan keharusan untuk membaca. Tapi orang yang suka membaca, belum bisa dipastikan dia suka menulis.

Jadi jelas ya, bahwa dengan menulis akan hadir gairah untuk membaca, dapat menyerap dengan lebih serius dan mendalam apa yang di baca. Karena kita membaca bukan untuk sekedar membaca, tapi membaca memang benar-benar untuk mencari informasi. Atau minimal mencari bahan untuk tulisannya.

4.      Warisan untuk keluarga

Yang paling dekat dengan kita adalah keluarga kita. Isteri, anak-anak, keluarga besar dan saudara terdekat. Ketika diawal saya mengatakan bahwa dengan menulis itu kita dapat membantu orang, memudahkan orang dan memberikan informasi kepada mereka, maka orang terdekat yang memerlukan manfaat-manfaat tersebut adalah yang saya sebutkan tadi. Orang-orang yang ada di sekitar kita.

Ada banyak hal yang hadir dalam hati, jiwa dan fikiran kita yang tidak bisa (atau tidak sempat) kita sampaikan dengan lisan atau perbuatan. Ungkapan rasa kasih sayang, perhatian, pengajaran, informasi dan sebagainya. Namun dengan tulisan dan dunia penulisan, semua itu dapat disampaikan dengan luasa. Tanpa sekat. Tanpa batas ruang. Dan tanpa dibatas waktu. Kapan saja dan dimana saja.

Anda menginginkan anak-anak anda menjadi orang baik, memberikan mereka panduan hidup, tips-tips sukses bahkan resep masakan?, semuanya bisa anda sampaikan melalui tulisan. Atau jika ada suatu nasihat, pendapat dan saran yang tidak kuasa anda menyampaikannya secara lisan, maka tulisan menjadi alternatif yang sangat baik. Hebatnya lagi, tulisan dan perannya ini akan tetap berfungsi hingga ketika anda sudah tiada sekalipun.

5.      Memberi manfaat bagi orang lain.

Inilah saya fikir menjadi fungsi terbesar dari menulis itu. Ya, memberikan manfaat kepada orang lain. Bukankah ilmu itu menjadi abadi dalam buku-buku dan tulisan-tulisan? Bukankah kita masih mempelajari khazanah-khazanah silam yang usianya bisa ribuan tahun? Begitulah kekuatan tulisan. Mengabadi. Langgeng.

Bisa saja tulisan kita sangat sederhana. Diksi dan alurnya biasa saja. Namun ketika kita menulisnya dengan niat tulus, ingin memberikan manfaat kepada orang lain, maka InshaAllah sangat besar manfaatnya.

Dan yakinlah, bahwa masing-masing kita memilik keunikan, peran dan pandangan yang berbeda-beda. Jangan terlalu digelayuti oleh fikiran bahwa “Tulisan saya buruk” “Tulisan saya tidak bermanfaat” “Ah sudah banyak orang yang menulis tentang ini”. Fikiran-fikran demikian hanya akan menghambat kita untuk mulai menulis. Yakinlah. Setiap kita punya cara pandang yang berbeda meskipun tujuannya sama untuk menyebarkan kebaikan. Bahkan untuk satu tema yang sama.

Saya jadi ingat satu sabda Nabi SAW: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sebanyak orang yang melakukannya” (HR. Tirmidzi, dari Anas bin Malik).

Jika demikian peran dan manfaat dari menulis, Yuk kita coba menuliskan apa yang kita bisa dan apa yang bermanfaat bagi orang lain.

Selamat menulis!

@AM. Yusuf
KL, 27 September 2016

2 comments:

  1. Baarakallah Ustadz.

    Saya pribadi selalu merasa punya bakat menulis. Hanya tdk PD untuk dibaca orang lain. Saya merasa masih banyak pelibatan perasaan yg terlalu pribadi dlm tulisan saya.

    Berarti perlu terus dilatih ya dan di publish minimal ke teman.

    ReplyDelete
  2. Iya, silakan dilatih bakatnya. Saya juga masih belajar. Yang penting niatkan untuk memberi manfaat bagi orang lain. Mengasah ilmu dan berbagi. Syukur-syukur bisa jadi buku pada suatu hari nanti.

    "Buku kita hari ini adalah tulisan kemarin, dan tulisan kita hari ini adalah buku kita esok hari"

    ReplyDelete